Kategori

Belajar Bikin StopMotion

STOPMOTION

Baru-baru ini, gue lagi tertarik sama salah satu teknik animasi yang bernama StopMotion. Sebelumnya gue udah sering nonton sih video-video StopMotion di YouTube. StopMotion sendiri ini adalah salah satu teknik dasar dalam animasi. Di mana objek/benda digerakkan secara manual dan dipindahkan secara perlahan. Kemudian, setiap digerakkan secara perlahan, objek/benda tersebut harus diambil gambarnya (difoto) dan disusun secara berurutan. Nah, biar keliatan bergerak layaknya animasi, gambar-foto yang diambil digabungin semua jadi satu, terus diatur kecepatannya. 

Kecepatannya juga macem-macem. Misalnya nih, untuk durasi film 1,5 menit (90 detik) pada kecepatan 25 fps (frame per second), jumlah foto yang harus diambil adalah 2.250. Tiap 1 detik = 25 foto. Setelah semuanya dirangkai jadi sebuah video, biar menarik, tinggal ditambah musik, jadi deh StopMotion. 

Tau film "Shaun The Sheep"? Nah, itu adalah salah satu bentuk animasi StopMotion. Filmnya digarap dengan sangat teliti dan sangat detail. Domba, perkebunan, mobil, dan objek-objeknya disusun sedemikian rupa. Gerakan seperti berjalan, berlari, melompat juga disusun sampe keliatan halus banget. Pembuatannya? Nggak usah ditanya, pasti capek dan makan banyak waktu. 

StopMotion = Gerak dikit - foto - gerak dikit - foto - gerak dikit - foto - dst. 

Gue iseng nyoba bikin StopMotion. Awalnya niat itu datang secara tiba-tiba, pas gue lagi mau makan cokelat. Gue kepikiran, kenapa ini nggak gue jadiin StopMotion aja, ya? Kan siapa tau, hasilnya bagus. Gue langsung buat deh videonya. Kira-kira yang ini cuman makan 50-60an foto. Kemudian langsung gue upload di Instagram:


Gue jadi ketagihan, hari itu juga, gue langsung buat StopMotion Rubik's. Jadi ceritanya, StopMotion itu berisi rubik yang diselesaikan dari keadaan teracak. Makan sampe 300an foto. Sayang, Instagram punya batas video 15 detik. Terpaksa gue cepetin jadi sekitar 10 fps biar bisa masuk semua. Jadinya cepet gini deh:


Gue juga bikin versi kecepatan normalnya, sekitar 30an detik. Gue upload di YouTube:


Klik ini kalo video nggak bisa di-play.

Nah, makin lama gue makin ketagihan. Gue bikin StopMotion lagi. Konsepnya gue lagi gambar buku gue di kertas, terus pas udah jadi, buku gue muncul beneran deh. Ini makan sekitar 250an foto, plus tangan gue pegel gambarnya. Niat awalnya sih pengen gue gambar pelan-pelan sampe jadi. Tapi karena udah pegel duluan, jadinya gue gerakin tangan gue nutupin buku dari kiri ke kanan, terus langsung jadi. Biar kesannya kayak sulap, padahal mah tangan pegel. StopMotion #SGFD:




Kalo mau buat StopMotion itu yang penting NIAT dan SABAR. Niat biar kita bisa mulai membuatnya. Sabar karena membuatnya itu lama dan makan waktu. Plus pegel. StopMotion paling pegel yang pernah gue buat itu yang rubik. Iya, karena emang baru buat 3 video StopMotion, dan yang paling lama itu yang rubik. Tangan kiri gerakin rubik, tangan kanan megang hape siap-siap foto. Begitu terus. Nggak jarang, gue malah lupa rumus nyelesain rubiknya karena harus gerakin pelan-pelan, terus difoto dulu. 

But, I enjoyed this so much.

***

Gue suka sama video StopMotion-nya Bena yang pake kaki. Itu buatnya pasti lama banget. Seharian. Salut deh sama Bena. Videonya keren, kreatif, dan menghibur. Buat yang mau liat video StopMotion-nya Bena, klik INI. 

Pas gue lagi asik bahas StopMotion di twitter, followers pada merekomendasikan gue untuk nonton video StopMotion Aulion. Pertama kali nonton video StopMotion-nya, gue langsung kagum sendiri. Keren banget, bro! Nih kalo nggak percaya:


Klik ini kalo video nggak bisa di-play.


Gimana? Tertarik bikin video StopMotion? Pernah buat juga? Share dong sama gue! :D

GIVEAWAY - Tiga Bulanan


Tiga bulan udah berlalu semenjak buku pertama gue, Student Guidebook for Dummies, lahir ke dunia. Tiga bulan itu juga, followers gue naik secara frontal, mention dan twitpict tentang buku gue berkeliaraan, dan yang paling keren buku gue udah berjejer rapi di rak Gramedia. Yah, walaupun belum di semua Gramedia seluruh Indonesia. Tapi ini udah cukup jadi suatu kebanggan tersendiri buat gue. 

Gue sering pergi ke Gramedia untuk sekedar ngeliat buku gue. Selain itu, tiap ke Gramedia, gue selalu berusaha mencari cara untuk menjejerkan buku-buku gue biar kelihatan paling menonjol. Emang, keliatan curang. Secara nggak langsung, gue juga menutup pintu rezeki penulis-penulis yang bukunya gue tutupin. Gue rasa, semua penulis juga pasti pernah melakukan hal ini. Lagian, siapa yang tau? :p

Gue biasa melakukannya sendiri, atau dengan bantuan temen yang kebetulan gue ajak ke Gramedia. Ini nih hasilnya kalo gue ke Gramedia dan nemuin buku sendiri:

1. Sebelum. Buku gue masih sendiri.

2. Jurus bayangan. 

3. Jurus bayangan lagi. 

4. Sesudah. Kemudian gue ninggalin Gramedia dengan muka nggak berdosa.

Masih ada cara lain sebenarnya. Yaitu dengan ngetik judul buku di komputer Gramedia, kemudian tinggalin. Orang-orang yang mau nyari buku dan ke komputer tersebut, pasti paling nggak ngeliat atau tau judul bukunya. Yoi. Mungkin kalo ada satpam Gramedia yang baca tulisan ini, gue bakalan dilarang masuk lagi ke sana.

Jujur, gue sendiri nggak terlalu berharap lebih sama buku pertama ini. Hehe. Menurut gue, tulisan gue masih terlalu "ngasal" dan garing banget. Sebagai buku komedi, kayaknya belum bisa dibilang berhasil. Buku ini, menurut gue, terbantu oleh ilustrasi-ilustrasinya. Kalo gue disuruh ngasih bintang, gue bakalan ngasih  3 dari 5 bintang. Sebagai buku pertama, yah... komentar pembaca lumayan positif sih. Lagian, gue lebih suka nikmatin prosesnya, hasilnya itu cuman bonus lah dari Tuhan. :D

Ngomong-ngomong, kalian yang udah baca buku Student Guidebook for Dummies, pasti langsung kaget pas baca tulisan gue di blog. Beda abis, kan? Iya, menurut gue tulisan gue udah berkembang. Tulisan gue di blog jauh lebih mateng ketimbang di buku. Makanya, buat buku kedua (doain aja bisa bikin lagi hehe), gue bakal bener-bener matengin konsepnya. Biar nggak kayak buku pertama. Gue pengin ada pelajaran yang bisa diambil, nggak cuman asal dibaca sampe habis terus dibilang "Udah, gini doang?".

Gue pengin tulisan gue bisa bermanfaat. 


Maaf, jadinya curhat. 


< - - - GIVEAWAY - TIGA BULANAN - - - >

Kali ini, gue pengin bagi-bagi dua buah buku Student Guidebook for Dummies. Syaratnya cukup punya blog, akun twitter, dan akun facebook. Oke, jadi langsung aja ya. Pertama, kalian harus:

1. Follow blog gue. Caranya? Di widget sebelah kanan ada "Supporter Absurd", terus klik aja "Join this site". Kalian bisa follow blog gue dengan akun Google+, Twitter, maupun Yahoo. Atau bisa langsung klik ini.

2. Like fanpage "Kevin Anggara Blog" di widget sebelah kanan "Pasukan Absurd". Atau bisa langsung klik ini.

3. Blog minimal udah berusia tiga bulan. Sama kayak usia buku pertama gue. Hehe.

Kalo udah memenuhi persyaratan di atas, ini dia tantangannya:


1. Buat postingan di blog kalian. Isinya adalah REVIEW blog gue ini se-MENARIK mungkin. Kalian bisa ngasih saran, masukan, kritik, dan sebagainya. Plus pilih postingan mana yang paling kalian suka di blog ini beserta alasannya. Minimal: 500 kata.

2. Judul artikel: BEBAS. Keyword nama gue "Kevin Anggara" dalam postingan kalian, nanti dikasih link ke blog gue: www.kevinanggara.com.

3. Tulisan belum pernah dipublikasikan dimanapun, nggak mengandung SARA, nggak copy-paste dari peserta yang juga ikutan. 

4. Di akhir postingan, jangan lupa ajak pembaca blog kalian buat ikutan giveaway ini. Terus jangan lupa ngasih link ke postingan ini juga. 

5. Kalo udah selesai buat artikelnya, mention ke twitter gue (@kevinchoc), dengan format: "Judul postingan" Link postingan @kevinchoc #GiveawayTigaBulanan. Contoh: "Kevin Anggara si Pelajar Absurd" www.kevinanggara.com @kevinchoc #GiveawayTigaBulanan.

6. Komen di sini ya yang udah ikutan. Cantumin username twitter sama link postingan kalian. Jangan lupa share postingan ini juga :p

7. Deadline: akhir bulan ini (30 November 2013) Pengumuman pemenang bakalan gue update di sini, paling lama 3 hari setelah deadline tutup.

8. Buat pemenang yang dapet buku Student Guidebook for Dummies, gue minta reviewnya juga ya di blog kalian. Hehe.

Nggak wajib follow akun twitter gue. Pemenang gue yang milih sendiri. Keputusan nggak bisa diganggu-gugat. Nantinya ada dua orang pemenang. Ongkos kirim buku semua gue yang tanggung. Pemenang tinggal terima jadi aja. So, good luck!

< - - - PENGUMUMAN PEMENANG - - - >
Sebelumnya, gue pengen ngucapin terima kasih buat blogger-blogger kece yang udah menyempatkan waktunya untuk ikutan giveaway kecil-kecilan ini. Terhitung, selama 15 hari periode giveaway ini, ada 10 peserta yang ikutan. Terima kasih udah ikut berpartisipasi. Buat yang bantuin promo giveaway ini juga terima kasih. Hehe. 

Yak, langsung aja gue ngasih tau 2 orang pemenang yang berhak mendapatkan buku Student Guidebook for Dummies. Penilaian gue lakukan sendiri, dibantu oleh juri tamu yang gue undang dari London, Maudy Ayunda. Doi lagi kuliah di sana. Terima kasih, Maudy :3

Jadi, kita telah menentukan, pemenangnya adalah...... 


Asy-syifaa Halimatu Sa'diah
http://kak-bi.blogspot.com/2013/11/reviewer-absurd-review-blog-pelajar.html

Cynthia Novelia
http://cynzgreen.blogspot.com/2013/11/demi-sesuap-buku.html

Selamat buat para pemenang! Kirim data diri (nama, alamat, no telp) ke kevinchocs@gmail.com, ya. Ditunggu paling lambat sampai besok pukul 10:00! Biar cepet juga nanti dikirimnya, hehe. Buat yang belum menang, jangan sedih dulu. Karena gue masih bakal bikin giveaway nanti. Makanya, pantengin kevinanggara.com terus! \o/

Proses atau Hasil?

Tears in Heaven

Hidup adalah proses belajar dan perjuangan tanpa batas. Kalo sedang melakukan sesuatu, jangan langsung terpusat pada hasilnya. Tapi nikmati aja prosesnya. Proses itu adalah cara kita belajar menjalani sesuatu yang dihadapi. Kita bisa sukses karena apa? Karena proses yang kita lewati itu. Kadang, proses memang lebih dihargai ketimbang hasil. Kecuali saat ulangan. Murid nyontek, disalahin. Padahal itu kan proses mendapatkan nilai yang bagus? 

Iya, dengan cara yang salah.

Apalah arti sebuah nilai yang tertulis di atas kertas, kalau ilmu yang kita pelajari tidak berbekas sama sekali di otak? - ngambil quote dari buku #SGFD.

Contohnya gue, saat proses menulis naskah buku pertama yang akhirnya terbit Agustus lalu. Gue menikmati menulis naskah buku itu dengan sepenuh hati. Gue nggak mikirin hasilnya nanti gimana, karena menurut gue proses lebih asyik dinikmati ketimbang hasilnya. Kalo mau sukses, kuncinya: nikmati proses, jangan kebanyakan protes. 

Oh iya, dalam rangka GagasDebut bersama GagasMedia, Angelia Caroline, penulis buku Tears in Heaven, akan menceritakan sedikit tentang bukunya dan perjalanan di balik terbitnya buku tersebut. Yuk, silahkan simak tulisan dari Angel ini:

A Journey of a School Project to the Bookstore

Tak sedikit dari kita yang menyimpan luka di hati, hal-hal tidak menyenangkan di masa lalu yang sebisa mungkin berusaha dihapus dari memori. Namun, semakin kita berusaha melupakannya, kenangan pahit itu malah semakin menghantui kita, membuat kita membenci orang-orang yang terlibat dan tak jarang diri kita sendiri.

Bagaimanapun kita berharap sebaliknya, tidak ada seorangpun yang bisa mengubah masa lalu. Membenci tak akan membawa kita sejengkal pun lebih dekat pada solusi. Kadangkala, yang kita perlukan hanyalah cinta yang tulus dan keikhlasan untuk memaafkan.

Tears in Heaven merupakan sebuah kisah tentang seorang remaja bernama Nathan. Orang tua Nathan sudah bercerai semenjak ia kecil, sebuah kejadian yang menimbulkan luka yang membekas di hati Nathan, terutama terhadap ayahnya yang meninggalkan ibunya untuk menikah lagi dengan perempuan lain.

Setelah didiagnosis menderita leukemia akut, Nathan harus meninggalkan Bali untuk tinggal di Jakarta bersama ayah dan ibu tirinya. Sebuah kejadian yang membuat Nathan benar-benar membenci hidupnya.

Namun, ia mendapati bahwa ternyata hidup di Jakarta tidak seburuk kelihatannya. Di sekolah barunya, ia menemukan persahabatan dalam diri Tania, Marvin, dan Brian. Dia juga bertemu dengan Kayla, seorang gadis mungil yang begitu memahaminya. Kayla selalu ada untuk menemani dan mendukungnya. Kayla juga yang membantu Nathan berdamai dengan masa lalunya dan diri sendiri.

Love and acceptance. Mungkin merupakan tema yang terkesan umum untuk dibahas. Tapi saat mulai menyusun ide cerita, dua hal itu terasa sangat menarik bagiku. Berangkat dari perasaan itulah aku memilihnya menjadi dua tema utama dalam novel Tears in Heaven.

Sedikit sharing, waktu kecil dulu, aku sangat suka bermain dengan boneka-boneka. Masing-masing boneka kuberi nama dan kujadikan pemeran dalam kisah-kisah hasil imajinasiku. Seiring bertambahnya usiaku, boneka-boneka itu tersimpan rapi di dalam lemari. Namun, cerita tentang mereka tak pernah kulupakan.

Bermajinasi merupakan caraku berpetualang dalam dunia nan luas penuh warna, sebuah dunia pribadi yang aku yakin pada dasarnya ada dalam pikiran semua orang. Dengan menulis, aku menemukan cara untuk memberi kehidupan pada kisah-kisah dalam duniaku, membentuk cerita mereka dengan merajut untaian kata demi kata.

Tears in Heaven adalah kisah pertamaku yang berhasil mewujud ke dalam bentuk sebuah novel. Awalnya novel ini merupakan novella sepanjang 40 halaman yang menjadi tugas proyek ekstrakurikuler yang kuikuti di sekolah, kelas creative writing yang telah menjadi tempatku belajar begitu banyak hal selama setahun terakhir.

Dari Kak Rani Andriani Koswara aku belajar cara mengembangkan ide, menuliskannya, dan mengemasnya menjadi sesuatu yang layak dibaca. Di bawah bimbingannya juga aku berhasil mengawal perjalanan sebuah draft novella berjudul Eternal Sunshine bermetamorfosis menjadi sebuah novel berjudul Tears in Heaven yang diterbitkan oleh GagasMedia bulan September 2013.

Semoga Tears in Heaven bisa menjadi sesuatu yang meninggalkan kesan manis di hati para pembaca

Angel

***

Angel mengawali proses menulis naskah novel dengan mengikuti ekstrakurikuler dan berhasil mengembangkan novella 40 halamannya menjadi sebuah buku. Sama seperti gue, bedanya, gue mengawali proses menulis naskah ini dari blog. Ujung-ujungnya juga berhasil sih, mengembangkan naskah itu menjadi sebuah buku. 

Terlihat dari tulisannya, Angel juga sepertinya menikmati proses menulis naskah itu. Kita sama-sama pernah pusing karena dikejar deadline, dihantui terus sama editor, dan yang paling parah combo keduanya. Oh, ini jadinya curhat terselubung. Iya, intinya kita sama-sama menikmati prosesnya. 

Memang, hasil kadang nggak selalu memuaskan. Tapi yang terpenting adalah kita menikmati prosesnya. Kalo udah maju, jangan pernah mundur lagi. Kata game Crash Team Racing, itu namanya wrong way. Kecuali kalo main tarik tambang. Kita harus mundur terus sampe belakang. Biar tim kita menang, dan semuanya senang. 

Karena proses itu wajib dan hasil itu bonus.

#NgeblogYuk dari Sekarang!


Gue sedang menulis draft postingan dengan segelas ice-coffee yang menjadi teman gue di setiap malam. Untuk mengistirahatkan pikiran sejenak, jari gue mulai mengklik tombol mouse dan berpindah tab dari blog ke twitter. Keasyikan scrolling timeline membuat telunjuk kanan gue keram. Gue lalu terhenti dan melihat sebuah twit dari Bena, yang isinya kurang lebih adalah ajakan untuk ngumpul bareng blogger-blogger di Jakarta. Kebetulan, Bena lagi free. Beli satu, gratis Bena. 

Sebagai seorang blogger yang sangat bersemangat, gue mengirim e-mail sesuai syarat untuk ikutan acara yang dinamakan #NgeblogYuk itu. Kalo dikonfirmasi, berarti ini adalah pertemuan pertama gue dengan Bena secara langsung. Pertemuan pertama yang nantinya akan dihiasi dengan obrolan-obrolan seputar internet dan juga blog. Pertemuan pertama yang nantinya akan mempertemukan gue dengan inspirator gue dalam dunia blog. Kalo dipikir-pikir, romantis juga, ya. 

Keesokan harinya, gue bangun dengan tujuan bermalas-malasan karena kebetulan hari libur. Gue lupa, kemarin gue sempet ngirim e-mail ke Bena. Tapi, habis scrolling timeline dan melihat Bena muncul lagi, gue langsung ngecek inbox e-mail. Dan ternyata, ada e-mail konfirmasi yang mengharuskan gue datang ke salah satu mall di Jakarta Selatan, menghadiri acara #NgeblogYuk bersama keempat blogger lain. Dua diantaranya adalah anak-anak komunitas blogger yang gue ikuti, Jamban Blogger.

Saat itu juga, gue langsung bersiap-siap untuk berangkat dengan TransJakarta. Gue adalah orang Jakarta yang punya keinginan untuk membuat Jakarta bebas macet, yah walaupun kemungkinannya lebih kecil dari mata gue sendiri, salah satu caranya adalah dengan naik angkutan umum ini. 

Nah, sesampainya di sana, gue keliling mall sambil naik-turun eskalator. Oh, bukan... gue bukan nungguin mereka. Tapi gue lagi nyari toilet, kebelet pipis, eh kencing. Pipis itu cewek, kencing itu laki! Beda, ya. Hape di kantong celana sebelah kanan gue kemudian bergetar, tanda ada sms yang masuk. Smsnya kurang lebih tentang pemindahan tempat acara berlangsung, dari salah satu coffee shop ke coffee shop lainnya. 

Sambil nungguin mereka, gue langsung mendatangi coffee shop yang dimaksud, memesan segelas ice cappucinno yang ternyata paling murah dari ice-coffee lainnya, kemudian mengeluarkan laptop untuk menulis postingan. Sampai akhirnya mereka datang, lumayan, gue udah dapet satu draft postingan. 


Oh iya, gue pengin kenalin dulu siapa aja yang datang di acara #NgeblogYuk ini. Yang pertama, udah jelas ada Bena yang ngadain acara seru ini. Bena adalah seorang blogger yang juga merangkap sebagai penulis buku "Benabook". Lalu, ada Vendry, pemilik Moinblog yang isinya dijamin bikin perut menjerit kelaparan. Bikin ngiler pula. Ada juga teman dari Bena dan Vendry, yaitu Natasha, Brand Ambassador @iwearbanana. Sayang, blognya udah ditutup. Doi sekarang lagi bikin naskah buku loh. 

Nggak lupa dong, ada dua orang temen gue dari Jamban Blogger. Mereka adalah Ucup dan Tiwi. Ucup adalah seorang blogger yang baru-baru ini semangat banget nge-blog. Doi katanya sedang mencari jati diri. Ucup mengambil jurusan Public Relation, dan jelas, Ucup ini orangnya nggak bisa diem. Tiwi, yang baru-baru ini kuliah dan mengambil jurusan Sastra Indonesia. Suka nulis cerpen dan puisi di blognya. 

Gue juga dapet temen baru di acara ini. Ada kak Pingkan yang ternyata paling senior di antara kita. Bayangin aja, doi udah nge-blog sejak 2003 di Friendster! 2003 itu gue baru aja umur 6 tahun dan masuk SD. Kemudian ada Ravi, salah satu teman Bena, yang baru nge-blog belum lama ini. Blognya berisi tentang Fashion DIY, dan menjadikannya sebagai fashion-blogger cowok pertama yang gue kenal. Terus yang terakhir, ada Sabila yang jauh-jauh dari Bekasi untuk ikutan ngeramein acara ini. Totalnya jadi ada 9 orang. 


Oke, here we go ke inti acaranya. Di acara ini, kita saling sharing soal blog, review blog, berbagi pengalaman, sampai curhat dan yang terakhir main games. Yang awal-awalnya pada diem-dieman doang, lama kelamaan suasana jadi cair dan kita mulai akrab satu sama lain. Berkat Ucup dan Ravi juga yang pinter ngomong dan bikin acara makin seru. 

Dari acara ini, gue juga jadi dapet banyak ilmu tentang nge-blog. Sampai akhirnya di penghujung acara, yaitu kesimpulan, Bena memberikan kesan dan pesan untuk kita. Pesan-pesannya positif, membangun dan bermanfaat banget. Nggak nyesel deh dateng ke acara ini, dapet temen baru, dapet pelajaran juga. Gue juga ikut-ikutan ngomong, setelah dipaksa sih. 

"Pada dasarnya, nge-blog itu untuk berbagi. Bukan untuk terkenal dulu." Gue membuka suara. Suasana mendadak jadi serius. Bena membenarkan kacamatanya. Vendry membenarkan posisi duduknya. Ucup menatap mata gue dalam-dalam. Tiwi mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Pingkan langsung menoleh ke arah gue. Sabila tetap diam dalam posisinya. Ravi... kemana Ravi?! 

Oh, ternyata Ravi duduk di belakang gue. Ravi kemudian melepaskan topinya.  

"Gue nge-blog sih buat berbagi dulu ke pembaca." Gue melanjutkan. "Perihal terkenal atau yang lainnya, itu cuman bonus. Kalo kita sering-sering berbagi dan konsisten, pada akhirnya kita juga bakal dikenal dengan sendirinya." Suara gue masih tetap kecil, tapi masih bisa didengar oleh semua yang ada di situ. 

Gue juga mendapatkan pertanyaan dari Ravi, "Ada batasan minimal berapa post dalam satu bulan?" Gue jawab "Ada. Kalo gue, mulai dari Februari kemarin mulai konsisten dan serius nge-blog. Minimal 4 postingan dalam satu bulan. Gue juga punya jadwal sendiri dalam publish postingan. Biasanya setiap Sabtu, malam minggu."

"Setelah publish postingan di hari Sabtu, gue kemudian menyiapkan postingan untuk Sabtu berikutnya. Jadi, bukan tiap hari Sabtu, gue baru ngetik lalu langsung publish. Biasanya, gue selalu siapin postingan duluan. Ada beberapa postingan gue yang nggak di-publish di hari Sabtu. Itu biasanya postingan penting, atau untuk keperluan event." 

Ravi menambahkan, "Apa hambatan nulis di blog?" 


Bena yang pertama kali menjawab. Tapi Vendry langsung nyeletuk, "Bena itu selalu punya rencana untuk nulis di blog. Idenya banyak banget. Nah, karena kebanyakan, biasanya malah nggak jadi". Bena tertawa, lalu membenarkan kata Vendry. Bena juga bocorin sedikit rahasia, kalo dia sekarang lagi pengin bikin blog baru. Tentang... ah namanya juga rahasia.

Gue kebagian untuk menjawab. "Hambatan gue nulis di blog, hmm... paling ada pembaca yang nggak setuju dengan postingan gue. Itu doang. Padahal, mereka nggak harus setuju kok. Karena semua orang punya pendapatnya masing-masing."


Waktu terus berjalan, nggak kerasa acara udah mau selesai. Sesi terakhir, kita foto-foto bareng, dan baru inget kalo kita semua punya hape. Soalnya, saking seru acara #NgeblogYuk, kita nggak sempet mainin hape. Hehe. Gue juga nggak lupa foto-foto bareng Bena, terus gue ngasih buku #SGFD ke Bena. Yah, ini pertemuan yang keren banget. Selanjutnya, gue berharap bisa ikutan lagi. 


Nah, temen-temen, menurut gue, nge-blog itu bener-bener bermanfaat loh. Selain bisa nambah banyak temen baru, kita bisa nambah pengetahuan juga. Cerita-cerita yang kita tulis di blog juga nantinya bisa kita baca lagi di hari tua, bisa diceritain ke anak-cucu juga. FYI, Bena ini pernah dapet undangan ke luar negeri loh berawal dari nge-blog. Dari nge-blog juga Bena sempet sharing, dia bisa bayar uang kuliahnya sendiri. Jadi mengurangin beban orang tua juga. Wow. Buat yang masih males update blog dan baru mau bikin blog, semoga postingan ini bermanfaat, ya. #NgeblogYuk dari sekarang!

Yuk, Buat Mereka Bangga dan Bahagia


Orang tua adalah sosok yang berpengaruh dalam kehidupan gue dari dulu sampai sekarang. Mereka adalah penjaga terbaik yang diberikan Tuhan kepada gue. Tanpa mereka, gue nggak bakalan ada. Tanpa mereka, gue nggak bakal bisa kayak sekarang ini. Dan salah satu cita-cita gue yaitu: membanggakan sekaligus membahagiakan orang tua gue. Setiap orang pasti punya cita-cita yang sama dengan gue, kan? 

Udah menjadi kewajiban bagi kita semua untuk mencintai dan menyayangi orang tua kita sendiri. Coba deh flashback dikit saat kita masih kecil dulu. Orang tua merawat dan membesarkan kita. Mereka selalu sabar, nggak pernah ngeluh. Tapi apa yang kita lakukan sekarang? Sedikit-sedikit ngeluh. Mungkin sekarang saatnya kita berkorban untuk orang tua. Iya, kalian pernah bayangin berapa banyak dan besarnya pengorbanan orang tua untuk kita? 

Gue terinspirasi dari salah satu THREAD di Kaskus. Tentang hal yang masih bisa kita lakukan selagi orang tua kita masih ada. Tentang keinginan setiap anak untuk membuat orang tua-nya bahagia. Apa aja tuh? 

1. Orang tua jelas ingin melihat anaknya lulus. Mereka membiayai kita untuk mendapatkan pendidikan, dan semuanya pasti terbayar tuntas jika mereka melihat kita lulus, bukan?  

2. Memberikan gaji pertama. Iya, gue dapet gaji pertama dan memberikan semuanya ke orang tua saat buku gue terbit. Memang, nggak seberapa. Memang, ujung-ujungnya mereka nolak. Tapi dengan ini, se-nggaknya gue bisa sedikit membahagiakan dan membuat mereka bangga. 

3. Membelikan alat penopang kehidupan. Seiring berjalannya waktu, orang tua kita pasti akan semakin tua. Ada yang perlu alat bantu pendengaran, ada yang perlu alat bantu penglihatan, dan ada juga yang perlu tongkat atau kursi roda untuk membantu mereka menjalankan aktivitasnya. 

4. Memberangkatkan ibadah haji, bagi umat muslim. Setiap umat muslim pasti punya keinginan untuk memberangkatkan orang tua mereka ibadah haji. Jelas, perasaan bahagianya nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata. 

5. Memberikan hadiah di hari kelahirannya. Walaupun hanya bermodalkan lilin dan kue ulang tahun yang sederhana, orang tua pasti sangat bahagia jika kita memberikan sesuatu di hari kelahirannya. Setiap tahun, gue selalu menyempatkan diri untuk memberikan hadiah, yah walaupun nggak seberapa, yang penting ada niat yang tulus untuk membahagiakan mereka. 

6. Membangun rumah untuk mereka. Orang tua perlu tempat yang tenang dan damai untuk menghabiskan sisa hidupnya di dunia dengan penuh ketenangan. Membangun rumah yang jauh dari polusi kota pasti membuat mereka bahagia. 

7. Memberikan mereka cucu. Yoi. Mereka pasti bahagia melihat anaknya tumbuh dewasa dan menikah. Melihat mereka menggendong anak kita. Dulu, kita juga diperlakukan dengan penuh kasih sayang seperti itu. 

8. Menemani ketika maut menjemput mereka. Akan tiba saatnya ketika kita berada di sampingnya, sambil berdoa. Tegar melihat jasad orang yang paling dicintai dan mencintai kita lebih dari siapapun terbujur kaku. Are you ready?

9. Mendoakan dan melanjutkan cita-cita mereka. Nantinya, walaupun mereka udah nggak ada, kita harus selalu mendoakan mereka. Kita harus melanjutkan cita-cita mereka. Semuanya memang tinggal kenangan, tapi kenangan mereka di hati kita, selalu ada.

Mana yang udah kita lakukan? Mari, kita hormati dan doakan orang tua kita. Baik yang masih ada, ataupun telah tiada. Jika gunung tertinggi di dunia itu kau jadikan emas dan kau berikan seluruh emas itu pada orang tuamu, itu tidak akan cukup untuk membalas semua jasa yang beliau berikan padamu. 

Sedikit renungan dari gue untuk kita semua:

Ketika kita masih kecil, orang tua selalu memaklumi kesalahan kita. Sedangkan ketika kita besar, kita membalasnya dengan makian jika orang tua melakukan kesalahan? Ketika kita masih kecil, kita sering rewel dan menangis karena belum bisa berbicara. Sedangkan ketika kita besar, orang tua hanya minta kita untuk menjaganya, tapi kita selalu menolaknya? Ketika kita masih kecil, orang tua selalu menunjukkan kepada dunia dengan berkata "Ini anakku!" Sedangkan ketika kita besar, kita malah malu dan malas membanggakan orang tua kita yang dulu selalu membanggakan kita?

Ketika kita masih kecil, dimanapun, orang tua selalu memikirkan kita. Sedangkan ketika kita besar, kita bahkan nggak ingat untuk memikirkan orang tua kita? Ketika kita masih kecil, orang tua selalu mencium kita setiap pagi. Sedangkan ketika kita besar, kita bahkan nggak pernah mencium orang tua kita setiap pagi? Ketika kita masih kecil, orang tua selalu mendoakan yang terbaik untuk kita. Sedangkan ketika kita besar, kita bahkan nggak pernah mendoakan orang tua kita? 

Sudahkah kita menghormati orang tua kita? Sudahkan kita mematuhi setiap perkataan orang tua kita? Sudahkah kita bilang "Aku sayang kalian" setiap harinya? Sudahkah kita mencium orang tua kita setiap harinya? Sudahkah kita berdoa untuk orang tua kita setiap harinya? Sudahkah kita meluangkan sedikit waktu kita untuk memikirkan kedua orang tua kita? Menghabiskan waktu, bercanda, bermain, dan ngobrol dengan mereka?

Sudahkah kita membahagiakan orang tua kita? Sudahkah kita memperlakukan mereka seperti mereka memperlakukan kita dari dulu sampai sekarang? Sudahkah kita berterimakasih atas semua kebaikan dan jasa-jasa mereka? Sudahkah?


Pernahkah kita membentak dan melawan orang tua kita? Pernahkah kita memilih kepentingan pribadi kita sendiri daripada kepentingan kedua orang tua kita? Pernahkah kita membuat mereka marah? Pernahkah kita membuat mereka menangis? Pernahkah kita menganggap mereka jahat karena nggak bisa memenuhi kebutuhan kita? Pernahkah kita menyesal memiliki orang tua seperti mereka? Pernahkah?

Minta maaflah, selagi orang tua kita masih ada. 

***

Jujur, gue sendiri masih sering melupakan kedua orang tua gue. Kadang kalo pergi, nggak pamitan dulu. Gue masih sering membentak dan melawan mereka. Gue juga masih jarang punya waktu dengan mereka. Ke depannya, gue pengin membahagiakan mereka. Sesederhana keinginan orang tua itu hanyalah melihat anaknya bahagia. Gue sadar, jasa-jasa dan kebaikan mereka nggak mungkin bisa gue balas, untuk itu gue selalu berusaha sebaik mungkin untuk membuat mereka bahagia. 

Segera berterimakasihlah kepada orang tua untuk semua yang telah mereka berikan. Segera meminta maaf-lah kepada orang tua jika kita pernah berbuat kesalahan. In the end of the post, mohon maaf kalo ada kata-kata yang kurang berkenan. Gue nggak bermaksud sok bijak, gue cuman mau kita semua mikir, merenung, dan bersyukur karena masih punya orang tua yang menyayangi kita. Yuk, buat mereka bangga dan bahagia. 


Interabsurd: Oom Alfa

Gue nggak pernah kepikiran buat ngasih nama benda mati. Memang, gue punya sahabat benda mati, tapi nggak sampe gue kasih nama kok. Sahabat gue itu nggak jauh-jauh dari benda kotak bernama handphone. Misalkan gue harus kasih nama, gue bakalan ngasih nama yang gampang diinget. Gue bakalan ngasih nama handphone gue: Budi. Karena Budi udah ada dan sering banget disebut-sebut sejak gue masih SD. 

Tugas Budi setiap pagi adalah membangunkan gue dengan alarmnya. Tiap hari, Budi juga harus rela gue pencet-pencetin badannya. Mungkin kalo Budi bisa ngomong, dia bakalan bilang "Cukup, vin! Jangan sentuh aku lagi! Tanggung jawab!" Budi lalu melaporkannya kepada pihak berwajib. Gue pun harus menikahi Budi atas nama tanggung jawab dan tuduhan pelecehan seksual terhadap benda mati. Gue harus menikah dengan benda mati. Dengan nama cowok pula. Oke, pikiran gue terlalu liar. 

Gue yakin, setiap orang pasti punya sahabat. Begitu juga dengan Arie Sadhar, seorang anak guru, apoteker yang juga merangkap sebagai karyawan swasta dan penulis buku. Arie punya sahabat istimewa, untuk berbagi suka maupun duka. Sahabat istimewanya bernama Alfa. Seonggok motor tua berwarna merah. 

Arie nggak mau dianggap gila. Baginya, persahabatan nggak melulu harus dengan sesama makhluk hidup. Lewat bukunya yang baru-baru ini terbit, Arie ingin membuktikan kalo persahabatannya penuh dengan tawa, dilema, juga derita.

Yuk, simak langsung obrolan gue di Interabsurd kali ini bareng Arie Sadhar.

Interabsurd adalah interview absurd yang diadakan sebulan sekali di kevinanggara.com. Interabsurd sudah diedit sesuai dengan kebutuhan. Terima kasih.

Interabsurd

Halo, rie.

Halo juga, vin.

Ceritain dikit dong awal mula nge-blognya gimana?

Gue pertama nge-blog tahun 2005. Waktu itu pake blogspot. Tapi gara-gara ribet ke warnet, jadi berhenti. Tahun 2005, warnet kan masih langka. Aktif lagi tahun 2006, nge-blog lewat Friendster. Menjelang lulus kuliah, gak aktif lagi. Aktif lagi tahun 2011. Lama banget ya hibernisasinya hahaha. 

Friendster ini udah kayak diary buat gue. Sampai jalan bareng pacar orang gue ceritain di situ. 

Lah, nggak ketahuan?

Justru itu, ketahuan. Hahaha.

Ceritanya gimana?

Jadi waktu itu gue posting gitu di Friendster, terus dibaca sama pacarnya. Gue message-messagean deh sama pacarnya, antar lelaki. Sejak saat itu, gue jadi hati-hati kalo posting. Habis kejadian ini juga gue jadi jarang nge-blog lewat Friendster. 

Katanya, punya motor kan yang namanya Alfa? 

Iya, baca bukunya aja #loh

Awal mula punya Alfa gimana?

Biasa, anak SMA minta motor, duit orangtua gak banyak. Yaudah, beli seadanya. Gue belum bisa nyari duit zaman segitu. 

Kalo alfa masih ada sampe sekarang, umurnya berapa?

Alfa umurnya lebih tua dari Kevin Anggara. Sekarang umurnya 24.

Wow, gue harus manggil 'Oom' dong, ya?

Iya, vin. 

Kenapa motornya dikasih nama? Nggak disangka orang gila?

Sebenernya gak semua benda gue kasih nama. Berhubung Alfa adalah benda yang dekat dan selalu bersama, ya kasih nama aja sekalian. Orang-orang juga gak bakal ngerti gue suka ngasih nama benda kalo gak diceritain.

Jadi, harus dibaca di bukunya langsung ya?

So pasti.

Pernah ngasih nama buat benda mati yang lain? Kayak handphone misalnya. 

Pernah. Yang sekarang laptop, namanya Tristan. Kalo handphone, belum nemu diksi yang tepat untuk namanya. 

Namanya punya arti?

Punya dong. Alfa sih sesuai merk aja, selain itu, Alfa kan motor pertama gue. Alfa dalam bahasa Yunani artinya satu. Kalo Tristan, karena merknya diawali dengan huruf T. Tristan itu juga tokoh 'Robin Hood' yang nasibnya galau kayak gue. 

Pengalaman bareng Alfa yang nggak bisa dilupain?

Pas gue mondar-mandir Jogja Utara-Selatan. Waktu itu mbah lagi kritis, dan terus meninggal. Ada kok di buku #teteppromo

Oh iya, rie, coba ceritain dong tentang bukunya..

Eng, gimana yah.. 

Jangan grogi, gue nggak gigit orang kok. 

Buku gue isinya nasib mengenaskan sih.

Nggak apa-apa kok, ceritain aja.

Jadi intinya, buku Oom Alfa memberitahu gimana rasanya hidup mengenaskan tapi kita bisa tetep ketawa. Buku ini juga mengajari kita arti bersyukur. Intinya sih kalo baca buku ini, kayak makan gado-gao. Bisa ketawa, sedih, kasihan, terharu dalam waktu bersamaan. 

Menurut lu, bersyukur apa sih?

Menikmati segala hal yang kita terima. Mau jelek, mau ngenes, mau seneng, dll. Pokoknya, nikmatin aja. 

Seberapa penting arti bersyukur dalam hidup lu?

Bersyukur itu modal buat ngejalanin hidup. Jadi kudu banyak bersukur, biar bisa hidup.

Ada pesan nggak buat pembaca Interabsurd, mengenai pentingnya bersyukur dalam kehidupan?

Syukur gak sebatas dari yakinku teguh.

Woi! Hahaha.

Pokoknya, syukuri aja semua. Jangan sampe ada lagi deh cerita bunuh diri gara-gara gak dibeliin motor misalnya. 

Sekarang, udah punya motor baru?

Punya dong.

Beli sendiri? 

Iya, namanya BG. Beli pake gaji sendiri. BG itu diambil dari nama plat sih. Plat daerah palembang. Tahun 2009-2011 kan gue kerja di Palembang. Jadi beli di sana. 

Sekarang, gue pengin nanya pertanyaan yang absurd.

Oke.

Kalo misal Alfa hidup lagi, pengin ngomong apa sama dia?

Gue mau nunjukkin skripsi gue aja. Soalnya gue nulis nama Alfa di kata pengantar skripsi gue. Hahaha. Siapa tau dia terharu. 

Terus? 

Kalo Alfa terharu, gue mau minta tolong cariin jodoh sebagai tanggung jawab moral dia dulu bikin gue gak laku.

Lah, kok bisa?

Iya. Lagian, siapa juga cewek yang mau nebeng bareng seonggok motor kayak Alfa?

Hahaha, bener juga yah. 

Gue juga pengin nanya sama Alfa, dia masih gak bisa mati gak? Soalnya, itu kerusakannya yang paling extra-ordinary.

Nggak bisa mati?

Iya, mulai dari gak bisa hidup sampai gak bisa mati. Waktu itu kunci kontak udah dicabut, mesinnya tetep nyala. Gak mungkin kan gue ninggalin motor nyala di parkiran. 

Kalo Alfa hidup lagi, pengin dibawa ke suatu tempat?

Ke Kaliurang. Dulu soalnya pernah gak kuat sampai sana. Kaliurang juga ngangenin banget. Apalagi liat mobil goyang. #eh

Apaan tuh mobil goyang?

Jangan sok polos, vin. Hahaha. 

***

Ini adalah postingan Interabsurd pertama di blog ini. Semoga obrolannya cukup seru buat dinikmati. Nantikan Interabsurd berikutnya bulan depan. Interabsurd: Kadang serius, kadang asik, kadang absurd. Sekian~

Review: Lontang-Lantung - Roy Saputra

Gue punya banyak temen-temen sekolah yang udah kerja di luar sana. Mereka biasa kerja sehabis pulang sekolah, atau sebelum masuk sekolah (anak SMK, masuknya siang). Kerjaannya pun macem-macem, dari bantuin jaga toko/stand di mall, buka usaha/online shop sendiri, jadi SPG rokok kalo mereka punya badan yang bagus, sampai kerja rodi bangun jalan Anyer-Panarukan di bawah pimpinan Herman Willem Daendels. Semuanya kerja dengan motivasi uang dan alasan cari pengalaman. Ada juga yang karena ingin cari uang jajan tambahan atau membantu meringankan beban orang tua. 

Gue sendiri masih agak asing dengan dunia kerja. Jangankan di-interview kerja, buat CV lamaran kerja aja belum pernah. Eh, pernah sih. Itu juga disuruh buatin untuk kakak gue. Gue memang adik yang sangat baik hati. Maksud gue, gue belum pernah buat CV lamaran kerja untuk diri sendiri. Mungkin, ke depannya gue akan melakukannya. 

Hal yang gue tau dari temen-temen gue yang pernah kerja part-time, mereka selalu menyiapkan CV lamaran kerja, kemudian lontang-lantung mencari suatu perusahaan yang membuka lowongan, mendatangi kantor perusahaan tersebut, lalu langkah berikutnya menunggu interview kerja. Dan kalo diterima, ya mereka kerja. PRJ (Pekan Raya Jakarta) adalah salah satu momen di mana temen-temen gue melihatnya sebagai "lapangan pekerjaan". Padahal yang gue lihat, PRJ adalah momen di mana masyarakat Jakarta merayakan hari ulang tahun Jakarta dengan bentuk pameran di suatu tempat. 

Eh, ini kan gue pengin review buku, ya? Kok malah muter-muter ngomongin soal kerjaan? Kebetulan, buku yang bakalan gue review kali ini adalah buku komedi seputar dunia pekerjaan. Buku ini berjudul Lontang-Lantung, dengan Roy Saputra penulisnya. Buku ke-10 Roy Saputra ini merupakan kemasan ulang dari novel fiksi komedi yang pernah di rilis awal 2011, dengan judul yang sama. 

Lontang-LantungPenulis: Roy Saputra
Judul: Lontang-Lantung
Genre: Novel Komedi
Tebal: 252 hal
Penerbit: Bukune

Deskripsi: 

"Ri, namaku tak ada di sini," kata Togar menggaruk-garuk kepalanya. Nama Togar jelas nggak ada. Dia kan nggak pernah masukin lamaran.

Gue mendekat ke arah Togar dan sedikit berbisik, "Coba lo liat, di situ ada yang nama Batak tapi masih kosong, nggak? Lo tanda tangan di situ aja. Ngaku-ngaku jadi dia."
"Kenapa pula mesti nama Batak?"
"Gini, ya, Gar. Badan gede, muka kotak, dan logat Batak gitu, masa iya nama lo Paijo?"
"Ah, pintar juga kau. Tak percuma Mamak kau sekolah kan kau tinggi-tinggi!" Togar semangat mencari nama Batak yang kosong, "Eh, Ri. Ketemu, nih!"
"Siapa?"
"Rani Pangabean!"
"Yang cowok, Gar. Yang cowok." Gue menunduk malas.
"Ah, iya. Benar juga kau!"
Togar menelusuri lagi daftar dan berhasil menemukan nama yang sepertinya pantas untuknya. Yohan Sitompul.
"Silakan tanda tangan di sini, Pak Yohan." Mbak penjaga menunjuk kolom yang kosong.
"Ah, iya. Yohan, Yohan. Memang aku itu Yohan. Yohan Sitompul. Terima kasih banyak, Mbak. Salam hangat dari saya; Yohan Sitompul." Togar yang grogi, mengulang-ngulang nama Yohan, membuatnya terlihat sangat kikuk dan aneh.
---
Cari kerja zaman sekarang emang nggak gampang, banyak orang rela melakukan apa sana. Itu juga yang dialami Ari Budiman, seorang sarjana pengangguran yang tak henti berjuang mencari pekerjaan demi sesuap nasi, tempe, ayam, dan tahu. Berhasilkah dia?
*… tolong ya, dibantu ya. bim salabim, kerja apa? prok prok prok.*

***

Tulisannya pertama dari Roy Saputra yang gue baca adalah "Se(d)jarah", di buku Setahun Berkisah. Alur ceritanya menarik dan sekaligus membuat gue belajar sejarah tempat-tempat di kota Jakarta. Menurut gue, endingnya kampret abis. Nggak ketebak. Untung aja itu fiksi, kalo beneran, pasti bakalan nyesek. Sejak saat itu, gue jadi suka baca tulisan-tulisan dari Roy Saputra. Tulisannya keren, bahkan lebih keren dari orangnya sendiri. Oke, bang Roy, gue harap elu mengerti apa yang harus dilakukan setelah gue puji barusan. Gue tunggu ya, transferannya! Hahaha.

Lontang-lantung adalah sebuah novel komedi yang bercerita tentang Ari Budiman, si mahasiswa lulusan kuliah S1 jurusan ekonomi yang sedang lontang-lantung mencari pekerjaan. Ari Budiman nggak sendiri, dia temani dua orang sahabatnya; Togar dan Suketi. Togar adalah seorang Batak berambut kribo yang ngaku-ngaku cucu seorang penulis lagu nasional, C. Simanjuntak. Sedangkan Suketi, adalah seorang cowok keturunan Timur Tengah (bapaknya Jawa Timur, ibunya Jawa Tengah) yang berlogat jawa medok. 

Ari Budiman mengikuti wawancara kerja di berbagai perusahaan, sampai tes fisik lari keliling lapangan sebanyak 30 putaran, dan malah berakhir di perusahaan Glory Oil. Sebut saja Toko Oli Jaya. Oli Grengnya kakaaaaak!!

Sampai pada suatu peristiwa yang membuat Ari Budiman harus menjadi IT Division Head di Indobahari, hanya karena namanya yang pasaran itu. Ari Budiman pun bersaing dengan Bento, rekan satu perusahaan yang sinis kepadanya, untuk merebutkan posisi tersebut. Buku ini juga menyelipkan unsur percintaan, antara Ari Budiman dengan Bella, juga Suketi dengan Lena. Yang pada akhirnya, ternyata Lena... penasaran? Makanya, nanti beli dan baca sendiri aja. 

Lontang-lantung juga punya theme song, loh. Dengerin deh lagunya di bawah ini: 



Menurut gue, Lontang-lantung ini wajib dibaca buat kalian semua yang masih pada lontang-lantung nyari pekerjaan. Lewat buku ini, ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Salah duanya, terwakili dengan quote: 1) Kalau sukses nggak boleh sombong, gagal apalagi. 2) Selain berkumur dan bercukur, kita juga harus bersyukur setiap hari.

Di buku ini, ada juga teori Roy Saputra yang membuat gue bilang "Wah, kok gue nggak kepikiran ya...". Adalah teori tentang restoran mahal dengan lampu remang-remang, dindingnya yang agak gelap, dan banyak patung-patung. Menurut teori tersebut, tentang kenapa banyak patung-patung di restoran mahal: "Mungkin patung-patung itu tadinya adalah manusia yang sedang makan di restoran ini. Karena gagal bayar, mereka disemen dan dijadikan hiasan dekat WC. Nista sekali." Mungkin teori ini ada benernya.

Overall, komedi di buku ini pas dan nggak berlebihan. Komedinya padat, dan nggak dipaksakan. Lucunya dapet, pelajarannya juga dapet. Dalam buku ini, banyak juga loh pesan-pesan positifnya. Tentang perjuangan mencari kerja, persahabatan yang kuat, dan yang paling penting kejujuran. Pokoknya, buku ini menarik. Gue jadi nggak sabar nunggu filmnya beredar di bioskop. Iya, Lontang-lantung bakal di-film-in, bro! 


Luck is made by God. Others are made in China. - Lontang-lantung

Oli Grengnya, kakaaaaaaaaaak!