Kategori

Nggak Ada yang Tau

Gila. Udah lebih dari sebulan gue nggak nulis di blog ini. Jadi, langsung aja, di postingan kali ini, gue akan rekap hal-hal yang terlewat dan belum sempat gue tulis. Mari kita mulai.

1. Sebulan terakhir gue disibukkan oleh UAS di kampus. Kebanyakan UAS-nya itu bersifat take home dan harus gue kerjain di rumah. Gue tetap bikin konten video di YouTube, tapi tugas UAS ini gue jadikan prioritas. Makanya nggak sempat nulis. Dan kalo ada waktu luang, gue memilih untuk beristirahat karena capek. Kepala gue terasa berat karena kebanyakan mikirin ide-ide yang harus dieksekusi jadi sebuah karya.

2. Nggak hanya kuliah dan bikin video, gue juga masih nyempetin diri untuk ikutan shooting film Koala Kumal dan Ada Cinta di Sekolah (yang ini cameo satu scene doang). Jadwal shooting film ini gue selipkan di weekend-yang-harusnya-gue-istirahat-karena-udah-lima-hari-pergi-kuliah. Ini turut menjadikan Koala Kumal dan Ada Cinta di Sekolah sebagai film kedua dan ketiga bagi perjalanan karir gue di perfilman Indonesia.

Totalnya, gue udah main di tiga film lokal. Sebuah prestasi luar biasa bagi gue yang lima tahun lalu kerjaannya cuman nulis di blog doang. Nggak ada yang mengira, bahkan gue sendiri juga nggak kepikiran.

3. Dari film pertama gue, Ngenest, gue mendapatkan dua penghargaan. Yang pertama, Pendatang Baru Pria Terbaik dari acara Indonesian Box Office Movie Awards 2016. Yang kedua, Pendatang Baru Terfavorit dari acara Indonesian Movie Actor Awards 2016. Wow... Gue cuman bisa bengong.

Awards
Kiri-kanan: IBOMA 2016 - IMAA 2016

Gue nggak nyangka bisa memenangkan penghargaan yang sangat bergengsi itu, bisa masuk nominasi aja gue udah kaget banget. Ditambah saingan-saingan gue juga bukan orang biasa, tapi mereka yang aktingnya sangat bagus dan beberapa udah punya nama besar di perfilman Indonesia. Dulu, gue cuman nontonin video stand up comedy Ernest Prakasa dan Raditya Dika di YouTube, sekarang gue bisa main di film yang disutradrai mereka. Dulu, gue cuman nontonin Reza Rahadian di bioskop, sekarang gue bisa masuk nominasi bareng (walaupun berbeda kategori). Mungkin suatu saat main film bareng juga? Nggak ada yang tau.


4. Sedikit cerita yang menurut gue sangat menarik, mungkin ada yang sempet mikirin ini juga. Salah satu kontribusi pertama gue untuk perfilman Indonesia adalah membuat parodi dari trailer film Magic Hour. Gue nggak main di filmnya, tapi gue ikut serta dalam membantu promosi film ini. Bekerja sama dengan production house yang memproduksi filmnya sendiri ini mempertemukan gue dengan pemeran utama dari film Magic Hour, Michelle Ziudith dan Dimas Anggara. Buat yang belum tau, mungkin bisa nonton dulu:


Klik ini kalo videonya nggak bisa di-play.

Di video itu, gue menggantikan semua peran Dimas Anggara karena gue memiliki kesamaan nama belakang dengannya. Bukan, kami sama sekali bukan kakak beradik yang tertukar lalu kisahnya dijadikan sinetron. Dimas Anggara adalah seorang aktor yang sangat hebat, sedangkan gue waktu itu cuman anak sekolah yang kerjaannya bikin video-video nggak jelas. Dimas Anggara keren, gue biasa aja. Waktu pun berjalan.

Gue sedang duduk di kursi yang disediakan sambil menunggu pengumuman pemenang nominasi Pendatang Baru Pria Terbaik. Grogi bercampur deg-degan. Sesekali gue mengancingkan jas hitam yang baru dibeli kemarin. Kemudian, Michelle Ziudith dan Dimas Anggara datang dari belakang panggung. Ternyata, mereka yang akan membacakan nominasinya. DEG. Dalam hati gue, "Ini bakal sweet banget kalo ternyata gue yang menang dan mereka yang bacain nama gue." Singkat cerita, gue menang, lalu berjalan ke arah panggung.

Masih dalam hati, gue senang bercampur perasaan yang agak aneh, "Mereka main film, gue bikin parodi dari trailer filmnya," Gue semakin dekat dengan podium. "Sekarang, mereka bacain nominasi penghargaan yang dimenangkan oleh gue yang udah merusak trailer filmnya." Walaupun gue juga masuk nominasi untuk film Ngenest, bukan Magic Hour. Rasanya lucu. Mereka pasti berpikiran yang sama. Waktu pun berjalan.

Gue sedang duduk di kursi yang disediakan sambil menunggu pengumuman pemenang nominasi Pendatang Baru Terbaik. Masih grogi bercampur deg-degan, tapi udah nggak separah yang pertama. Sesekali gue mengancingkan jas hitam yang sama dengan yang gue pakai di acara sebelumnya. Saat pembacaan pemenang, bukan nama gue yang disebut. Nggak apa-apa, masih ada satu nominasi lagi pikir gue.

Tanpa harus menunggu iklan, Prisia Nasution dan Dimas Anggara datang dari belakang panggung untuk membacakan pemenang nominasi berikutnya, Pendatang Baru Terfavorit. Entah ada hubungan spesial apa selain kesamaan nama belakang, gue merasa gue akan memenangkan nominasi ini. Iya, nominasi yang dibacakan oleh Dimas Anggara lagi. Singkat cerita, gue menang, lalu berjalan ke arah panggung. "Gue memenangkan nominasi yang dibacakan oleh Dimas Anggara lagi," kata gue dalam hati. Kebetulan?

Nggak ada yang tau.

5. Sekarang, gue lagi libur kuliah (akhirnya). Gue udah punya beberapa rencana untuk liburan dan mengistirahatkan otak sejenak. Nggak cuman liburan, gue juga akan mengisi beberapa acara YouTube di Indonesia dalam dua bulan ke depan. Buat yang mau memulai channel YouTube atau pengin channel YouTube-nya berkembang (semoga), ditunggu aja informasinya.

6. Terakhir, gue punya rencana untuk mengubah template blog gue dalam waktu dekat (atau jauh), agar terlihat lebih update dan membuat gue semakin semangat nulisnya. Mungkin, ya. Kalo menurut kalian?

Sekian. BRRCIKEPEHH~

Tugas Itu Hanya Mitos

Gue udah masuk kuliah lagi. SKS-nya memang lebih dikit. Tapi, tugasnya jauh lebih banyak dan ribet. Dosen-dosen baik layaknya orangtua sendiri di semester dua udah mulai berkurang. Yang ada hanya dosen-dosen berhati killer di balik tampang yang lembut seperti anak kecil. Dosen yang nggak memberikan mahasiswanya memotret presentasi atau catatan di papan lewat handphone. Dosen yang hanya menerima acc (persetujuan) di waktu-waktu tertentu. Dosen yang sering absen dan ngadain kelas pengganti seenak jidat.

Sekarang gue udah ngerasain sedikit asam-garam kuliah. Serius. Di kampus, pepatah "Dosen adalah Tuhan" itu berlaku. Dosen selalu benar walaupun salah. Gue telat 10 menit diomelin, dosen telat 10 menit gue lagi yang diomelin, "Kamu sih yang datengnya kepagian!" LAH?!

Tugas Itu Hanya Mitos
Foto diambil saat kelas pukul delapan pagi tapi dosennya belum datang.

Dari dosen yang baik kayak malaikat sampai ganas kayak singa-belum-makan-tiga-hari, semuanya ada di kampus. Kuliah itu nggak sama kayak yang di TV atau film-film. Datang dengan wajah bahagia, menyapa teman dan dosen dengan ceria, mengerjakan tugas dengan gembira, serta lulus tepat waktu dan membanggakan orangtua. Kuliah tidak seindah itu, teman.

Ada aja halangan kayak dosen-dosen yang subjektif. Ketika dosen ini nggak suka sama lo, jangan ngarep bisa lulus mata kuliah itu dengan mudah. Bisa-bisa, lo fail mata kuliah ini karena alasan sepele: dia nggak suka sama lo. Mau marah? Nggak bisa. Dosen adalah Tuhan. Lo mau marah sama Tuhan? Dosa. Masuk neraka.

Untungnya, gue belum punya masalah dengan dosen-dosen yang subjektif itu. Jangan sampai. Cukup mendengarkan ceritanya dari teman-teman kuliah gue yang udah senior. Itu udah lebih dari cukup.

Tugas itu hanya mitos. Kuliah? Nggak usah ngerjain tugas. Tugas yang ngerjain kita.

Hidup Ini Terlalu Adil

UAS selesai, liburan dimulai.

Karena gue tinggal sendiri di Serpong, selama liburan kuliah ini, gue balik ke rumah di Jakarta. Sekaligus untuk menyambut imlek yang jatuh pada bulan Februari. Imlek udah menjadi tradisi di keluarga gue, jadi ya, gue harus bersama keluarga di rumah. Hitung-hitung, penghematan karena selama kuliah makan di luar terus. Kesempatan juga untuk ngumpulin angpao buat jajan. Kevin nggak mau rugi.

Nah, untuk mengisi kegiatan di rumah, gue jaga-jaga bawa kamera, siapa tau bakal kepake untuk bikin konten video. Bener aja, baru beberapa hari gue di Jakarta, kamera gue kepake terus untuk bikin konten video. Ini namanya liburan yang produktif. Gue juga bawa laptop untuk keperluan mengedit video. DotA 2 udah gue uninstall demi efektivitas dan produktivitas. Jadi, gue sekarang bisa main hanya pas di Serpong.

Gue suka meninggalkan komentar di video-video YouTube yang gue tonton. Beberapa waktu lalu, gue komentar di video (anggap aja) si A. Lalu, ada penonton si A yang bales komentar gue, "Dasar pemalas. Kevin jarang upload video!" Lucunya, video gue di bulan itu lebih banyak ketimbang si A. Kenapa malah gue yang dikomentarin kayak gini? Gue bingung, nggak habis pikir. Asli.

Di bulan Januari ini aja, gue udah publish empat buah video YouTube. Dengan kata lain, satu video setiap minggunya. Normal untuk ukuran gue yang bikin video sesukanya (FYI, gue nggak punya jadwal tertentu untuk posting video). Nah, nggak hanya ketika gue meninggalkan komentar di A, begitu juga saat di B, C, dan seterusnya. Belum berhenti sampe di situ, bahkan di video gue sendiri, masih ada yang komentar kayak gitu.

Padahal, tiga hari yang lalu baru upload video. Plot twist banget.

Bahkan, gue udah bikin satu video khusus membahas hal ini: Kenapa gue jarang upload video? Mungkin, kalian udah pernah nonton juga di sini:


Paling nggak, bisa mengurangi jumlah pertanyaan yang sama masuk. Tapi... Gue masih bingung dengan kasus komentar di video si A, B, C, dan seterusnya itu. Si A baru upload SATU video, gue komentar, dikatain sama orang random: "Jarang upload video!", padahal di bulan yang sama, video gue udah publish TIGA. =))))

Hidup ini terlalu adil.

WHY?!

Disclaimer: gue nggak ada masalah sama sekali dengan si A, B, C, dan seterusnya itu. Masalahnya cuma sama orang random yang ngatain gue jarang upload video, padahal gue lagi produktif. Fakyu. =)))

Selamat Datang

Tahun baru, semangat baru.

Kalimat di atas biasanya cuma berlaku di minggu atau bulan pertama tahun baru. Sisanya: hidup kayak biasa. Nggak kayak kampus lain, UMN di bulan Januari ini baru melaksanakan UAS. Ketika teman-teman gue pada ngeluh karena bosan udah libur duluan, gue malah sangat butuh liburan. Desember lalu yang notabene bulan liburan, harus gue isi dengan promo film Ngenest ke berbagai kota. Jadi... gue belum liburan.

Setelah UAS selesai, gue berencana akan menghabiskan liburan dengan malas-malasan. Netflix and chill kalo kata anak gaul 2016. Bedanya, Netflix gue ganti dengan DotA 2. Tahun baru yang sangat produktif. =))

...

Film Ngenest, sejak mulai tayang pada 30 Desember 2015, udah menembus 600.000 penonton di Indonesia. Langsung masuk ke jajaran 10 film terlaris di Indonesia tahun 2015. Gue senang bisa menjadi bagian dari film ini. Semua kerja keras gue (dan seluruh orang yang terlibat di film ini) terbayar lunas. Buat yang belum nonton, jangan sampe ketinggalan. Nanti nyesel. Nggak percaya? Liat aja review-review dari mereka:

Review film Ngenest

Nah, semenjak film Ngenest tayang, banyak yang nanyain gue, "Kalo ada tawaran main film lagi, diterima nggak?". Tergantung. Prioritas utama gue sekarang kuliah, gue nggak mau ada kerjaan yang ganggu jadwal kuliah gue. Pas shooting film Ngenest aja, absen gue udah pas-pasan. Untung gue bisa ikut UAS semua mata kuliah (satu mata kuliah maksimal tiga kali absen). Gue nggak mau itu terulang lagi. Takut keteteran.

Maklum, kuliah pake duit sendiri. Jadi, ya, gue tau susahnya nyari duit. Iya, kerjaan juga menghasilkan duit, sih. Tapi makan waktu lagi misalkan gue harus ngulang mata kuliah karena masalah absen doang.

...

Banyak hal yang pengin gue kerjakan di tahun 2016. Salah satunya ya tetap nulis di blog ini (walaupun udah mulai menurun frekuensi postingnya). Paling nggak, gue nggak berhenti nulis. Banyak juga yang nanyain, "SGFD 3 ada nggak?". Jawabannya: nggak. Student Guidebook for Dummies cuma sampe yang kedua. Kalo gue nulis buku lagipun, judulnya bukan itu lagi. Niat buat nulis sih ada, tapi masih sebatas niat, belum aksi.

Tahun ini juga gue berniat untuk pergi ke Jepang lagi. Serius, ke Jepang itu nagih. Berasa belum puas sepuluh hari di sana. Kayaknya, nanti gue musti pergi selama sebulan? Balik-balik pasti langsung nyari indomie.

Gue juga udah jarang bikin video pendek di Instagram, karena dengan kesibukan kuliah sekarang, kayaknya hanya bisa bener-bener bikin kalo ada banyak waktu luang. Gue sekarang lebih prefer bikin video YouTube. Durasinya lebih panjang dan bisa ditonton lebih lama. Kira-kira, itu gambaran hal-hal yang akan gue kerjakan di tahun ini. Harus rajin biar semuanya bisa dikerjakan dengan baik dan lancar. Semangat!

...

Untuk teman-teman pembaca yang baru datang ke blog gue ini, selamat datang. Anggap aja rumah sendiri, tapi nggak boleh megang apa-apa. Duduk aja sambil baca tulisan-tulisan gue.

Selamat tahun baru 2016! Anggap aja nggak telat, ini kan postingan pertama gue di tahun ini.

See You in 2016

Baru sempet nge-post lagi. Huft....

Jadi, banyak penyebab kenapa gue baru nulis lagi di sini.

Pertama, awal bulan Desember gue udah mulai siap-siap untuk berangkat ke Jepang dalam rangka liburan dadakan (karena udah beli tiket dari jauh-jauh hari). Dari tanggal 3, gue bersama LASTDAY Production pun berangkat ke Jepang. Total, kami di Jepang selama sepuluh hari. Tanggal 15, kami pulang lagi ke Indonesia. Tentunya, sayang banget kalo udah jauh-jauh ke sana, tapi gue nggak bikin video. Makanya, selama di sana, gue nyempetin untuk bikin semacam video perjalanan. Buat yang mau nonton keseruannya, silakan:



Kedua, tugas kuliah gue selama dua minggu numpuk. Banyak yang bilang, "Wuih, enak banget liburan ke Jepang!" atau "Wuih, udah libur kuliah, ya?". Nggak sama sekali. Gue ke Jepang make jatah absen kuliah. Jadi, tugas kuliah gue selama pergi ke Jepang, numpuk semua. Pulang tanggal 15, besoknya sampe tanggal 18, gue harus masuk kuliah karena absen udah mentok. Jadilah tiga hari keramat itu gue pake untuk ngerjain tugas kuliah; lukisan di kanvas 4 biji, tugas advertising, laporan kunjungan ke museum, sampe book report.

Ketiga, di sela-sela waktu luang di tiga hari keramat yang sebelumnya, gue ngedit video perjalanan di Jepang. Banyak yang nanyain gue, kenapa jarang upload video? Untuk meminimalisir orang-orang yang nanya kayak gitu, makanya gue dengan segera ngedit video jalan-jalan di Jepang. Iya, video yang di atas itu.

Keempat, gue harus ikutan promo film Ngenest. Nggak cuma di Jakarta, tapi juga roadshow di luar kota seperti: Surabaya, Makassar, dan Bekasi (itu kota-kota yang gue datengin). Oh iya, karena postingan terakhir gue baru ngasih liat teaser film Ngenest, ini dia official trailer film Ngenest:


Hari Rabu lalu juga gue sempet promo film Ngenest di acara Indonesia Morning Show (NET TV) bareng Ernest Prakasa dan Lala Karmela. Lihat muka gue yang baru bangun tidur karena acaranya pagi banget:

Indonesia Morning Show
Makin sipit.

Yak, itulah penyebab kenapa gue baru sempet nge-post lagi. Hampir setahun perjalanan kita di tahun 2015 ini. Banyak banget hal-hal yang gue alami, bertemu dengan banyak orang yang luar biasa. Sebelum menutup postingan terakhir di tahun ini, gue ingin mengucapkan terima kasih banyak untuk semua pembaca blog gue. Mungkin, makin ke sini, gue jadi kurang produktif dalam menulis. Sekalinya nge-post juga pendek-pendek, nggak kayak dulu. Iya, semuanya karena kesibukan gue yang semakin padat. Sekarang, gue nggak hanya membuat konten tulisan, tapi juga konten visual (video). Jadinya, ya, gue harus pinter-pinter bagi waktu.

Sekali lagi, terima kasih untuk semua pembaca blog gue yang udah menemani perjalanan gue sampe sekarang. Sukses untuk kita semua. See you in 2016.

Kapan Ngenest Movie Tayang?

Shooting film Ngenest sebentar lagi akan selesai. Dan gue yakin, kalian semua pasti udah nggak sabar buat nonton film ini. Selama menjalani proses shooting, gue ngerasa jadi makin kurus. Pergi pagi, pulang malam. Makan jadi kurang, karena yang lebih penting itu: tidur. Beneran.

Sekarang, gue akan ngasih tau beberapa bocoran tentang #NGENESTmovie:

Pertama, The Overtunes akan menjadi pengisi soundtrack untuk #NGENESTmovie!

NGENEST the MOVIE

Kedua, press-conference pertama untuk #NGENESTmovie diadakan tanggal 5 November kemarin. Gue keliatan paling "hancur" karena saat itu, gue lagi take scene yang ceritanya habis pulang nonton konser punk. Rambut acak-acakan, baju robek sana-sini. Yang lain pada keren, gue nggak.  KENAPA HARUS GUE... =((

NGENEST the MOVIE

Ketiga, yang paling ditunggu-tunggu. #NGENESTmovie will hit the theaters on December 30th this year!

NGENEST the MOVIE

Terakhir, untuk yang mau ngeliat sedikit video behind the scene-nya, bisa langsung cek video dari Raditya Dika yang kebetulan lagi main ke tempat shooting #NGENESTmovie:


Selamat menunggu! --- Follow @ngenestmovie for more updates.

Ngenest Movie

Shooting untuk film Ngenest sebentar lagi akan dimulai. Sebelum itu, gue bersama cast yang lain udah test-cam dan ngambil beberapa scene untuk dibuatkan teaser-nya. Seperti yang gue bilang, gue akan ngasih tau update terbaru tentang proses pembuatan film ini. Jadi, langsung aja kita mulai.

Perkenalkan, gue Kevin Anggara sebagai Ernest Remaja. Gue punya seorang sahabat bernama Patrick (Brandon Salim). Karena udah muak di-bully dengan sebutan Cina sejak SD, Ernest pun mencari cara untuk bergabung bersama Fariz (Ardit Erwandha), dan gengnya; Ipeh (Amel Carla), Bakri (Bakriyadi), dan Bowo (Fico Fachriza). Ini dia foto bareng-barengnya (ada Giovander Louis juga):

Ngenest Movie

Ernest pun tetap dikerjain walaupun udah berusaha bergabung bersama Fariz dan gengnya. Patrick yang melihat itu pun selalu menegur Ernest. Yah, wajar, dua-duanya udah di-bully sejak SD. Bedanya, Ernest ingin berteman dengan orang-orang yang udah mem-bully-nya itu, Patrick nggak. Intinya, film ini adalah adaptasi dari ketiga buku best-seller yang udah Ernest tulis. Buat yang udah baca, pasti nggak begitu asing dengan tokoh-tokohnya. Paling ada yang berbeda dikit dan beberapa tambahan aja.

Di hari yang sama, lokasi shooting kedatangan Arie Kriting yang membantu kami semua untuk mengembangkan dialog dan akting. Ilmu yang gue dapatkan di sini benar-benar bermanfaat.

Ngenest Movie

Ternyata, bikin film itu susah dan capek banget. Hari itu, gue bangun pukul empat pagi untuk shooting dan baru sampe di rumah lagi pukul sepuluh malam. Padahal cuma dua scene. Shoot yang simpel aja take-nya lama banget. Nah, buat yang suka memandang sebelah mata film-film Indonesia, coba deh rasain dulu proses pembuatannya. Daripada ngomentarin, mending langsung buktiin dengan karya, kan?

Yah, memang sih nggak semua film (Indonesia maupun luar negeri) itu bagus. Tapi di balik itu semua, ada proses yang panjang dan melibatkan banyak orang. Lumayan susah loh untuk membangun tim yang solid.

Gue berharap, hasil dari film ini akan sesuai dengan usaha di baliknya. Dan semoga kalian bisa menikmati film ini nanti. Ajak temen-temen yang banyak ya buat nonton! --- Follow @ngenestmovie for more updates.



- Kevin, 18 thn, pusing tugas kuliahnya banyak.

Kuliah vs. Sekolah

Kuliah itu beda jauh sama yang namanya sekolah. Gue udah (kurang lebih) sebulan jadi mahasiswa. Dan gue merasakan banyak sekali perbedaannya. Dari teman-temannya, dosennya, mata pelajarannya (mata kuliah), sampe peraturan-peraturannya. Gue sih udah lumayan bisa adaptasi dengan lingkungan yang baru ini. Tapi, awalnya juga masih sering terbawa sama kebiasaan pas masih di sekolah. Contohnya pas mau ke toilet, harus izin dulu. Dosen dateng, bawaannya pengin berdiri dan beri salam. Semacam itulah.

Di kuliah, enaknya kita bisa ke toilet tanpa harus izin dulu. Di kampus gue sendiri (UMN), diberikan jatah 15 menit waktu telat. Lebih dari itu, dianggap absen. Jadi kalo ada mata kuliah pukul delapan pagi, gue bisa datang paling telat pukul delapan lewat lima belas menit. Musti dimanfaatkan.

Di kuliah, bajunya bebas. Jadi makenya enak dan nggak bikin cepet bosen. Nggak kaku kayak seragam sekolah yang kena keringet dikit langsung lepek. Temennya juga nggak itu-itu doang. Kalo menurut gue, circle pertemanan di kuliah itu jauh lebih luas ketimbang di sekolah. Di kuliah, gue bisa temenan sama siapa aja yang gue temui. Entah itu senior, sesama mahasiswa baru, atau bahkan dosen.

Di kuliah, banyak diadakan seminar-seminar yang cukup bagus dan bisa memotivasi. Lumayan buat mengisi waktu kalo lagi nunggu mata kuliah berikutnya. Karena kampus gue di UMN (kepunyaan Kompas Gramedia), kadang ada acara Stand Up Super Seru yang bisa bikin kampus jadi nggak jenuh.

Di kuliah, Unit Kegiatan Mahasiswa-nya (ekskul) juga banyak banget. Dan yang menurut gue keren, kegiatan kemahasiswaan di luar kelas ini diadakan oleh mahasiswanya sendiri (biasa sih senior). Udah lumayan banget lah buat mencoba aktif di kampus dengan cara mengembangkan minat dan bakat lewat UKM.

Kalo ada yang bilang sekolah lebih asik ketimbang kuliah, gue nggak setuju. Yang bikin kangen dengan sekolah itu menurut gue cuma satu: teman-temannya. Coba aja teman-teman sekolah kita satu kampus, satu program studi, dan satu kelas. Asiknya jadi double.

Kuliah itu ada ada dua, swasta dan negeri. UMN sendiri termasuk perguruan tinggi swasta. Gue masuk ke UMN dengan jalur prestasi. Jadi nggak mahal-mahal banget lah uang pangkalnya. Tapi kalo dibandingin sama negeri, masih termasuk mahal. Yah, masing-masing perguruan tinggi punya kelebihan dan kekurangannya lah. Gue masuk ke UMN karena ada jurusan yang gue minati. Dan karena pengin tinggal sendiri juga sih. =))

Nah, buat pembaca blog gue yang masih sekolah dan berniat melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi negeri, tentunya harus melewati yang namanya SBMPTN, kan? Kemarin, gue nemu video yang menarik ini:


Quipper video ini adalah sumber belajar untuk persiapan agar bisa lolos SBMPTN. Ada tiga hal menarik yang ditawarkan. Pertama, Quipper video mempunyai tutor-tutor video terbaik. Kedua, konten SBMPTN yang komprehensif (anjay!) dan efisien. Ketiga, konten tersedia secara online. Jadi gampang dan mudah digunakan kapan saja. Apalagi di zaman sekarang yang semuanya udah serba canggih.

Quipper video ini jadi kayak tempat les online. Nggak perlu lagi dah panas-panasan pergi ke tempat les beneran. Tinggal nyantai di kamar sambil buka materi videonya lewat hape. Masih ragu? Coba deh bandingin sendiri dengan biaya bimbel atau les yang lainnya:

Keuntungan Quipper

Nah, buat yang mau gabung dan ikutan, bisa langsung klik di sini. Semoga bisa membantu teman-teman pembaca yang mau masuk ke perguruan tinggi negeri.

...

Untuk merayakan Hari Batik Nasional yang jatuh pada 2 Oktober 2015 kemarin, gue dan beberapa teman sekelas janjian untuk memakai batik ke kampus:

Iya, gue yang paling kiri itu.

Pas mata kuliah petama juga gue telat dateng hampir lima puluh menit. Tapi, gue boleh tetap masuk karena harus presentasi dan udah diabsenin sama teman yang kebetulan ketua kelas. Itulah enaknya kuliah. =))

Layar Lebar

Semenjak aktif di dunia video (Instagram dan YouTube), gue semakin dikenal oleh orang-orang di media sosial. Gue dikenal sebagai si pelajar kocak (yah, paling nggak bisa menghibur diri sendiri) yang sering bikin video. Mungkin, hal itu yang membuat seorang Ernest Prakasa mengontak gue langsung untuk proyek film yang diadaptasi dari bukunya—NGENEST: Ngetawain Hidup A la Ernest.

Malam itu, ada sebuah pesan masuk ke WhatsApp gue, dari Ernest. Isinya kurang lebih: gue ditawarin untuk memerankan Ernest remaja di proyek filmnya itu. Sebuah kesempatan emas bagi gue untuk melebarkan sayap ke media yang lebih luas. Bukan Instagram dan YouTube lagi, tapi film. Yang dulunya gue nonton bioskop, sekarang orang-orang yang nontonin gue di bioskop (walaupun bukan film sendiri :P).

Kapan lagi, kan?

Gue langsung antusias dan mengiyakan tawarannya. Nggak semudah itu, profil gue musti diajukan dulu ke produsernya. Gue harus menunggu kabar lagi. Nggak butuh waktu lama, gue dikabarin kalo produsernya juga tertarik sama gue. Nggak, kami nggak saling suka. Maksud gue, tertarik dengan profil gue itu. Dengan resmi, gue pun mempunyai tugas untuk memerankan Ernest remaja di film NGENEST.

Banyak kesulitan yang akan gue alami nanti. Salah satunya, jadwal shooting yang bertepatan dengan jadwal UTS gue di kampus. Harus pinter-pinter nyolong waktu. Belum lagi, selama shooting nanti gue nggak akan memakai kacamata (karena Ernest remaja nggak memakai kacamata). Antara gue nekat tetap shooting tanpa bisa melihat dengan jelas, atau berusaha mati-matian untuk belajar pake softlens.

Yah, itu pikirinnya belakangan aja. Yang penting, kalian harus nonton. #LOH

Btw, ini dia teaser poster film NGENEST:

NGENEST TEASER    NGENEST TEASER

Yang kiri alternatif pertama, yang kanan alternatif kedua. Yang di tengah...... orang nggak ada yeeee.

So, guys... inilah kesibukan baru gue. Tugas kuliah yang menumpuk. Harus update channel YouTube. Shooting. Dan lain-lain. Dan lain-lain. Dan lain-lain. Ke depannya, gue mungkin akan selalu ngasih update terbaru tentang proses pembuatan film ini. Euhm, jadi, guys....

Udah siap ngeliat gue di layar lebar? =))

Warna Baru

Mungkin banyak yang bertanya-tanya, kenapa gue belum upload video lagi di YouTube. Selain karena sibuk ospek kemarin, gue juga sedang mempersiapkan sesuatu yang baru di channel gue. Rebranding. Kenapa? Gue udah bukan anak sekolahan dan nggak make seragam lagi. Dulu, mungkin gue dikenalnya sebagai anak sekolahan kayak gitu. Tapi, sekarang gue udah kuliah.

Gue juga yakin, penonton video gue pasti bertumbuh bersama-sama. Mungkin sekarang kalian masih SD, SMP, SMA, kuliah, dsb. Tapi 10 tahun ke depan, kalian juga udah bukan anak sekolahan lagi, kan? Itulah kenapa gue mau branding diri gue dari awal. Gue bukan anak sekolahan lagi. Gue ngajak kalian buat ngeliat pertumbuhan gue juga. Biar nanti kalian nggak kaget dan nanya, "Kok Kevin nggak bikin video sama temen-temen sekolahnya lagi?" Begitu masuk kuliah, gue juga dapet temen-temen baru di kampus.

Tapi sebanyak apapun temen yang kalian punya, kalo udah nggak sejalan dan satu tujuan, pasti perlahan bakal menghilang juga. Begitulah hidup. Ada yang datang, ada juga yang pergi.

Kalo kalian ngecek channel YouTube gue beberapa hari terakhir ini, ada banyak hal yang berubah. Logo, channel art, sampe thumbnail video, semuanya baru dan jadi terlihat lebih segar. Ini gambar logonya:
Logo Kevin Anggara
Ini channel art-nya: 

Channel Art Kevin Anggara

Dan ini thumbnail videonya:

Thumbnail video Kevin Anggara

Designed by: @fluxdesign // Website: http://flux-design.us

...

Semoga dengan branding baru ini, gue jadi lebih sering upload video ke YouTube. Nah, buat yang selalu nanyain kapan aja gue upload video, jawabannya: sesuka gue. Iya, sengaja nggak gue jadwalin. Sejak awal bikin YouTube, gue nggak pernah bikin jadwal upload video. Bener-bener sesuka gue. Lagi mau bikin video, ya upload. Kalo lagi nggak pengin, ya paling gue buka YouTube buat nonton doang. 

I'm not a full time YouTuber. Kalo gue jarang upload, mungkin karena tugas kuliah yang sedang banyak, atau gue ada kepentingan lain yang harus dikerjain. Ada yang mau jokiin gue kuliah?

Gimana pendapat kalian terhadap warna baru di channel gue? Kasih komentar di bawah!

Ospek

Seperti mahasiswa baru kebanyakan, gue harus melewati sebuah tahap wajib yang bernama ospek. Orientasi studi dan pengenalan kampus. Di Universitas Multimedia Nusantara sendiri, OMB-nya (Orientasi Mahasiswa Baru) berlangsung selama dua hari. Dua hari, bentar doang dong? Nggak, men. Capeknya kayak habis nyapu satu kampus pake tissue. Tema OMB tahun 2015 ini adalah Light Up Your Passion! 

Sebagai mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara angkatan ke sembilan ini mampu untuk menggali berbagai potensi dalam diri mereka sendiri, terutama dalam bidang minat dan bakat sehingga mereka bisa berkarya untuk mengharumkan almamater dan berkontribusi kepada tanah air. - Filosofi tema dan logo OMB tahun 2015.

OMB hari pertama, gue harus ngumpul di drop point pukul lima pagi. Gila. Gila karena gue nggak tidur begadang ngerjain tugas sama Martha. Tugasnya sebenarnya nggak susah, cuman ribet. Biasanya pas OMB / MOS kan ada bukunya gitu (yang nanti diisiin tanda tangan kakak kelas, dll). Nah, ini disuruh bikin sendiri:

UMN 2015

Sebenernya Martha udah selesai, tapi dia mau bantuin gue ngerjain tugas buku ini dan begadang demi gue. Dimasakin indomie dan dibikinin kopi lagi. Jadi makin cinta kan gue? HEHEHE.

Di hari pertama ini, acaranya adalah upacara dan kampus tour. Selama kampus tour berlangsung, gue ngantuk parah. Bener-bener ketiduran setiap ada presentasi tentang apa aja yang ada di kampus. Ospek pukul lima pagi, selesai pukul lima sore. Dua belas jam gue kayak zombie yang lagi mencoba bertahan hidup.

Oh iya, di OMB ini, kami semua dibagi ke dalam beberapa kelompok (totalnya ada 100 kelompok) yang berisikan 17-18 orang. Anggota kelompok berasal dari semua prodi (program studi), jadi nggak cuman yang Akuntansi gabung sama Akuntansi, DKV gabung sama DKV. Nggak, semuanya gabung jadi satu. Setiap satu kelompok juga dipimpin oleh seorang PIC (person in charge), orang yang memimpin dan bertanggung jawab atas kelompok. Gue dari kelompok 50, dapet kakak PIC yang super baik: @vincentiuswill.

Kakak PIC-nya ternyata kenal sama gue. Awalnya sih awkward. Doi jurusan animasi UMN angkatan 2013 kalo nggak salah. Gambar-gambarnya keren banget loh. (Tuh, koh, gue promosiin HEHEHE).

UMN 2015
Kelompok 50: BUTTONBALL!

Hari kedua, OMB lebih banyak acara-acara serunya. Ada banyak games yang harus dilewati. Dan setiap kelompok berusaha mengumpulkan stiker biru dari setiap games yang ada. Stiker biru nambah satu poin gitu, stiker merah ngurangin dua stiker biru. Nah, kelompok dengan stiker biru terbanyak nanti akan dinobatkan jadi best group di akhir OMB. Sayangnya, kelompok kami cuma berhasil mengumpulkan dua stiker biru. Tapi, yang penting kebersamaannya lah, ya.

UMN 2015

Intinya OMB yang berlangsung selama dua hari ini seru banget. Menanamkan sikap solidaritas, tanggung jawab, dan juga kerja sama. Gue juga dapet banyak teman-teman baru. Lengkapnya, buat yang mau tau banget tentang OMB UMN 2015, bisa langsung cek ke website-nya: omb.umn.ac.id

Nah, selain foto, OMB ini juga didokumentasikan dalam bentuk video. Tonton keseruannya:


Salam UMN!

...

Maaf, guys, baru nongol dan nulis lagi di sini. Yah, hidup mahasiswa baru yang udah resmi jadi anak kuliahan. Yang penting, nggak pake seragam lagi kayak di sekolah. HAHAHAHA.

Pindah

Sebentar lagi liburan gue telah selesai. Gue harus masuk ke jenjang baru: kuliah. Itu artinya, gue juga harus segera pindah. Pindah ke tempat yang lebih dekat dengan universitas tempat gue kuliah. Gue pindah ke apartemen tepat di sebelah UMN. Kalo bangun kesiangan pun, gue nggak perlu buru-buru karena jaraknya yang sangat dekat. Kemarin, gue baru selesai ngurusin kepindahan.

Gue bawa semua barang-barang yang gue butuhin dari rumah. Kamera, dispenser, rubik, buku-buku, peralatan mandi, semuanya, deh. Gue nggak perlu nyiapin terlalu banyak barang karena di kamar udah ada AC, ranjang, dan lemari. Kamarnya nggak terlalu sempit dan nggak terlalu gede juga. Cukup dan pas banget buat gue sendiri. Walaupun tinggal sendiri, seminggu sekali gue harus pulang ke rumah.

Hitung-hitung hemat listrik, air, dan uang buat makan. Yoi. Mentalnya masih anak rumahan. Kalo ada yang gratis, kenapa harus bayar, kan?

Kamar baru

Kalo nggak tinggal sendiri, gue kayaknya bakalan mati duluan sebelum wisuda. Pulang pergi dari rumah gue ke UMN itu makan waktu dan tenaga, juga menyiksa batin. Apalagi dengan macetnya kota Jakarta yang bikin gue semakin prihatin. Itulah salah satu alasan kenapa gue memilih untuk tinggal sendiri.

Kamar gue masih terlalu kosong karena belum ada meja sama sekali. Jadi, sementara gue naro barang di lantai sambil nyari-nyari meja yang cocok buat kamar ini.

Kamar baru

Ke depannya, gue akan belajar ngurusin semuanya sendiri. Hitung-hitung melatih diri sendiri untuk menjadi lebih mandiri. Nyuci piring sendiri, bersihin kamar mandi, beli air galon kalo habis, nyuci baju, dan juga bayar uang listrik/air + internet. Kalo nggak ada internet, apalagi di zaman sekarang ini, matilah gue.

Dan yang paling penting, gue nggak harus bangun pagi-pagi lagi untuk kemudian pake seragam dan pergi belajar. Kuliah lebih membebaskan hal ini. Gue jadi bisa pake baju selain seragam dan ngatur jadwal kuliah sendiri nantinya. Bisa dipastikan, gue akan kembali menjadi anak rumahan. Yeah! #HidupAnakRumahan

...

P.S. Andai liburan bisa diisi ulang.

Bandung Juara

Gue absen posting di sini minggu kemarin, karena sedang sibuk-sibuknya promosi buku di Bandung. Bener-bener nggak ada waktu buat nulis. Bahkan sekedar untuk buka hape dan ngecek notifikasi. Jadi, postingan ini juga nggak akan begitu panjang. Maaf buat yang udah seminggu nungguin tapi gue malah nggak posting di sini. Mari gue mulai ceritanya.

Awalnya, gue berencana untuk liburan di Bandung. Bener-bener liburan. Tapi, apa daya.... kerjaan gue malah numpuk. Ada aja, entah dari mana datangnya. Nggak ada angin, nggak ada hujan, tiba-tiba muncul kerjaan. Selagi di Bandung, gue harus sekalian promosi buku dan siaran di radio. Pas mau jalan-jalan aja, gue kepikiran terus dan berasa nggak tenang. Oke, ini namanya liburan sambil kerja.

Ini kali kedua gue liburan ke Bandung. Salah satu tujuan gue ke sini adalah Trans Studio Bandung. Liburan pertama, gagal karena lagi high-season. Tiket mahal, jalanan pun macet. Liburan yang kedua ini, gagal juga. Kebetulan, gue dateng bertepatan dengan hari pertama puasa dan liburan sekolah. Harga tiketnya mahal banget, Rp270.000! Itu bisa dipake buat nonton berapa film di bioskop?Kembaliannya bisa buat refleksi lagi. Emang ya, sosok cina sejati udah mengalir di tubuh gue.

Jadinya gue ke Trans Studio cuma buat foto logonya dan nangis di depan loket tiket.

Bandung

Gue dan Bukune ngadain talkshow kecil-kecilan di The Panas Dalam Cafe. Acara bedah buku sekaligus buka puasa bareng. Nggak, gue nggak puasa. Tapi ikutan buka bareng aja.

Bandung

Yang ikutan ternyata lumayan banyak. Ada yang dari Sukabumi juga. Wuih! Kalian liat nggak adik-adik kecil yang di depan? Mereka semua pada kuat puasanya. Salut gue. 

Keesokan harinya, gue ngadain meet up dadakan. Sekalian modus buat jualan buku sendiri. Gue kira, karena dadakan kayak gini, yang dateng bakalan sedikit. Apalagi, tempatnya di Taman Jomblo. Pasti pada dateng sendiri-sendiri, deh. Ternyata.... malah lebih rame dari yang kemarin. Kami seru-seruan bareng, ngobrol-ngobrol, foto-foto, dan bikin video. Sebelum sorenya gue lanjut siaran di 99ers.

Bandung

Walaupun baru dua kali ke Bandung, gue ngerasa punya banyak temen di sini. Emang, gue mungkin belum kenal mereka semua. Atau bahkan nggak inget nama dan muka-mukanya. Tapi, kebersamaan yang gue rasakan dengan mereka nggak ternilai harganya. Kerjaan yang menumpuk jadi berasa lebih enteng karena gue menikmatinya. Bener kata orang-orang, Bandung emang juara.

Suasananya, tempat liburannya, makanannya, orang-orangnya, semuanya bikin kangen. Gue nggak sabar untuk liburan yang berikut-berikutnya lagi di sini. Tentunya, harus dateng di bulan dan hari yang biasa-biasa aja. Iya, biar harga tiket ke Trans Studio lebih bersahabat.

Bandung
Jualan...

...

Buat yang mau nonton cerita perjalanan gue di Bandung:

Seru-Seruan Bareng di Monas

Meet Up Bareng di Monas

Tanggal 9 Mei 2015 yang lalu, gue ngadain meet up bareng temen-temen sekolah. Ini adalah meet up kedua yang kami adakan. Meet up pertama, berlangsung sukses, di tempat yang sama. Tujuan meet up ini sebenarnya untuk bertemu langsung dengan para penikmat karya kami di Instagram. Sharing bareng, ngobrol-ngobrol lucu, serta foto-foto untuk mengabadikan momen yang jarang ini.

Agak berbeda dengan meet up pertama, di meet up kedua ini acara dari kami hanya seadanya aja. Selain karena persiapan yang dadakan, orang-orang yang dateng juga rame banget. Lebih rame dari meet up pertama, tahun lalu. Dari pagi, gue sengaja merekam perjalanan dan persiapan menuju ke Monas. Ada kejadian-kejadian yang terekam, seperti temen gue yang jadi contact person, sibuk menjawab pertanyaan dari orang yang jauh-jauh mau dateng dari Bekasi. Sempet dikerjain, tapi akhirnya diarahin juga. Iya, jadi contact person itu ternyata ribet banget. Ada aja yang nelpon buat nanya. Padahal pertanyaannya udah dijelasin semua. Ada yang masih nanya lokasi acara. Ada yang masih nanya acara mulai pukul berapa. Ada juga yang nanya... dengan nelepon pukul 3 pagi.

Tapi kekesalan itu, terbayar semua setelah gue nyampe di meeting point, patung lima bendera. Dari kejauhan, gue ngeliat banyak banget orang yang rela panas-panasan di sana. Demi nunggu kami.

Serius, gue nggak bisa ngomong banyak. Ada yang rela bolos sekolah demi bisa dateng ke acara ini. Ada yang sampe dateng ditemenin orang tuanya. Ada yang dari pukul 8 pagi udah sampe di Monas. Ada yang jauh-jauh dari Purwarkarta sama tantenya, demi bisa ketemu gue hari ini. Ada yang dari Bekasi, Surabaya, Jambi, dan daerah-daerah lainnya. Berkumpul bersama, di pagi yang cerah.


Klik ini, kalo videonya nggak bisa di-play.

Intinya, di postingan kali ini, gue cuma pengin ngucapin makasih banyak buat semua yang udah relain waktunya buat dateng ke acara ini. Acara yang nggak seberapa, tapi jadi berharga banget karena kita ada bersama-sama. Video itu, anggaplah sebuah hadiah dari gue, buat kalian yang dateng, maupun nggak dateng. Semoga keseruannya, bisa kita nikmati bareng-bareng.

Hitung Mundur

Akhir-akhir ini, entah kenapa gue lagi suka nulis tentang keseharian hidup gue. Entah itu cerita yang gue alami seminggu ke belakang, atau cerita lainnya yang udah lama banget gue alami. Dan menurut gue, cerita tentang keseharian itu adalah ide yang paling deket sama diri sendiri. Jadi, buat blogger-blogger baru yang suka bingung gimana caranya dapetin ide, ambil aja dulu ide yang paling deket sama diri sendiri. Contoh gampangnya: tulis aja seminggu ke belakang ngalamin apa aja. Kayak gue.

Nggak mungkin kan selama seminggu ke belakang, hari lu gitu-gitu aja. Pasti ada cerita yang bisa lu bagi dalam bentuk tulisan. Entah lu terlambat ke sekolah terus nggak boleh masuk, lupa ngerjain PR terus dihukum, udah terlambat lupa ngerjain PR juga. Wah... Kasus itu namanya.

Bulan Mei ini, gue bakalan sibuk ngerjain project video karena deadline-nya mepet semua. Kalender gue full sampe awal Juni nanti. Gue yang lagi liburan jadi kayak nggak berasa liburan. Mau main DotA pun rasanya ada yang ganjel. Deadline, deadline, dan deadline berlari-larian di kepala gue. Saling mengejar, minta diselesain duluan. Padahal, gue cuma manusia biasa yang tangannya dua.


Seperti kata peribahasa: Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Yoi. Gue harus ngelewatin ini semua dulu, baru nanti menikmati liburan. Sebelum akhirnya memasuki dunia baru yang bernama: kuliah. Nggak sabar :))

Dan, gue punya sedikit informasi tentang buku kedua gue yang sebentar lagi akan terbit. Masih memakai judul yang sama seperti buku pertama, buku kedua gue berjudul: Student Guidebook for Dummies 2: Pintar Itu Relatif, Nyontek Itu Alternatif. Nggak, nggak bakalan sama kayak yang pertama. Buku kedua ini akan lebih banyak berisi cerita-cerita yang gue alami selama sekolah.

Pre-order untuk buku kedua gue ini dibuka mulai tanggal 25 Mei-31 Mei 2015. Cuma 6 hari. Keuntungan pre-order: bisa dapetin bukunya duluan sebelum ada di Gramedia, plus dapet tanda tangan Raditya Dika. Nggak, becanda. Tanda tangan gue lah, Kevin Anggara.

Tentunya, nanti ada bagi-bagi buku gratis seperti biasa. Dan yang bikin gue nggak sabar adalah, acara utama saat promosinya. Gue kasih bocoran dikit: kalian harus punya buku kedua gue dan punya blog sendiri buat ikutan. Jadi, buat yang belum nge-blog, mulailah nge-blog dan beli buku kedua gue. Buat yang emang udah nge-blog, tinggal beli buku kedua gue aja. Acaranya bakalan seru. :))

Yak, udah pada nggak sabar kan? Mari hitung mundur dari sekarang! Tapi dalam satuan detik.

Dunia Ini Lebih Luas dari Ruang Kelas

Segenap pelajar SMA yang baru menjalankan UN sedang sibuk-sibuknya menikmati liburan. Beberapa ada yang deg-degan menunggu pengumuman kelulusan. Beberapa ada yang santai dan nggak begitu peduli. Gue termasuk orang yang biasa-biasa aja dan nggak begitu peduli dengan hasil pengumuman nanti. Karena gue udah siap dengan apapun hasil yang keluar nanti.

Justru kalo deg-degan, kita bisa bikin diri sendiri jadi semakin panik. Dan begitu hasil yang keluar nggak sesuai harapan, jatohnya malah bisa stres. Banyak orang yang nanya sama gue, kenapa nggak takut kalo misalnya nanti nggak lulus? Hey, dunia ini lebih luas dari ruang kelas. 

Creativity

Hasil "tidak lulus" nggak bikin gue langsung mati. Justru itu adalah saat yang tepat untuk gue membuktikan bahwa hidup nggak melulu soal nilai. Lulus atau nggak lulus nanti, gue sendiri nggak akan mau buat ngulang sekolah lagi. Cuma ngabisin duit dan waktu, demi sebuah ijazah. Yah, kalo lulus gue akan lanjut kuliah. Kalo nggak lulus gue akan jalani hidup kayak biasa. Sesederhana itu. 

Gue akan tetap jalani passion gue sekarang ini. Tetap nge-blog dan menulis kayak biasa. Tetap menghibur lewat video. Tetap menjadi diri sendiri, seperti sekarang ini. Yoi.

Gue bukan pesimis, tapi realistis. Gue sendiri susah optimis dalam hal apapun yang gue kerjakan, karena takut kecewa kalo hal yang gue kerjakan itu nggak sesuai harapan. Makanya gue selalu nurunin ekspektasi serendah mungkin, dan selalu cari solusi lain kalo-kalo emang bener hal yang gue kerjakan nggak sesuai harapan. Begitulah gue. Just don't expect too much.

Kita harus selalu siap dengan setiap kemungkinan yang ada. Jadi buat temen-temen seperjuangan yang lagi nunggu pengumuman kelulusan, dibawa santai aja. Jangan terlalu dipikirin. Buat adik-adik kelas SD dan SMP yang nanti akan menjalani ujian, semangat belajarnya!

Tetap ingat, bahwa dunia ini lebih luas dari ruang kelas.

...

Ngomong-ngomong soal sekolah, buku kedua gue kebetulan masih mengambil tema ini. Sekarang buku gue udah selesai diedit dan sedang memasuki proses selanjutnya: pembuatan ilustrasi dan kover. Untuk judulnya, masih belum dipastikan. Tanggal terbitnya juga belum tau. Yang pasti sih, kata editor gue, bukunya bulan ini terbit dan siap nangkring di Gramedia. Tenang, bakalan ada pre-order dan edisi tanda tangannya kok. Nggak usah takut kehabisan. Bersiap-siaplah!

Harta Karun di Balik Kotak Surat

Kali ini jadwalnya gue nulis segmen Kotak Surat. Tapi, kemarin semua email gue ke-starred, dan bergabung dengan semua email yang sebelumnya udah gue tandain duluan. Jadi pusing. Ditambah lagi, masih ada aja yang baru-baru ini ngirim email dan isi emailnya ditulis di subject. Bukan apa-apa, ini udah 2015, coba deh belajar make email yang bener. Hapenya udah pada smartphone (di footer email ada tulisan "Sent by *merk smartphone*), masa yang make masih belum smart.

Dan kalopun gue bales, gue malah jadinya kayak mempermalukan mereka. Makanya, gue diemin. Berharap mereka tau kesalahannya di mana, dan nggak ngambek kalo emailnya nggak dibales. Pernah waktu itu gue kasih tau, "Salah tuh, masa isi emailnya ditulis di subject. Lain kali yang bener ya." Dibales, "Iya, makasih, Kak!". Tetep ditulis di subject. Mari facepalm bareng-bareng.

Gue pun masih sering nerima email yang isinya minta follback, nanyain ID Line, mintain pin BBM, nanya kelas berapa, nanya blognya apa, cara ngedit videonya gimana, judul lagu yang dipake apa aja, dan email-email serupa yang udah pernah gue jawab dengan sangat jelas di blog ini, maupun di socmed yang gue pake. Ada lagi yang emailnya belum gue jawab, udah ngeluh duluan di socmed bilang, "Ah, emailku nggak dibales." Gara-gara ini, gue beneran jadi males jawabinnya.

Mau tau isi emailnya? Minta follback.

Kill me now

Lagian, gue udah pernah bilang sebelumnya. Dikutip dari Kotak Surat pasal 23 ayat 4 sampe 7 (ya, ini ngarang doang biar keliatan formal): Kalo nggak dibales, something wrong with your email, bro. Jangan buang-buang waktu dengan email yang isinya cuma, "Halo kak, bales dong, aku fansmu." atau "Halo kak, follback twitter aku dong." Email kayak gitu pasti langsung gue delete.

Terkadang, gue nggak bales email karena beberapa hal: 1) Pertanyaan udah pernah dijawab. 2) Pertanyaan nggak penting, kadang bukan pertanyaan malah (contoh: minta follback). 3) Gue emang nggak mau jawab, karena... nggak penting juga (contoh: nanyain privasi). Ada loh, ada.

Tapi.... gue bener-bener ngebacain semua email itu sebelum gue bales, maupun gue delete karena alasan tadi. Gue berterima kasih banget karena kalian udah percaya sampe ngirim email ke gue. Itu tandanya, kalian percaya, gue bisa menjawab pertanyaan kalian. Gue berusaha semampu gue untuk memberikan jawaban itu. Tapi, kalo pertanyaannya kayak contoh-contoh yang di atas, good bye~

Nah, di balik email-email "nyebelin" itu, ada juga email-email yang bisa bikin gue senyum-senyum sendiri. Ini agak melenceng sih dari tujuan segmen Kotak Surat, yaitu menjawab pertanyaan dari email yang masuk. Tapi, nggak apa-apa, gue emang pengin nunjukin aja, sekalian ngasih apresiasi. Ini adalah email dari Willy Sugiarto, sekitar sebulan yang lalu. Iya, baru nemu lagi emailnya.

Jadi, waktu itu dia pernah gambarin gue komik, dari scene video gue di Instagram. Dia ngasih liat foto gambarnya itu lewat Twitter. Nggak berapa lama kemudian, dia juga ngirim hasil scan-nya ke email. Gue pikir, dia punya bakat di bidang ini, jadi coba liat deh gambarnya:

by Willy Sugiarto

Ini lagi:


Bagus kan gambarnya? Gue berasa nemu harta karun di balik Kotak Surat. Dan gue baru kepikiran, gimana kalo ini dijadiin segmen juga, kayak Kotak Surat. Ah.... keren juga ya?

...

Selamat bermalam minggu, guys!


Sibuk

Cuma mau ngasih tau beberapa hal.

Pertama, gue sedang sibuk-sibuknya menjalani ujian di sekolah. Dari Februari, sampe Maret ini, gue masuk sekolah isinya ulangan semua. Dari ulangan akhir semester, try out, ujian praktek, pra-UN, dll. Mungkin nanti ada sekolah biasa lagi, tapi kayaknya cuma belajar buat pelajaran-pelajaran UN. Awal April, langsung ujian nasional. Setelah itu, bebas sebebas-bebasnya. Paling cuma nungguin hasil UN.

Lulus nggak lulus, bagi gue nggak menjadi masalah yang sangat berarti. Karena, yah, nilai di atas kertas nggak bisa mengubah masa depan gue juga. Gue cukup menjalani passion gue dengan sepenuh hati. Yoi, itu tadi kalimat antisipasi aja. Jaga-jaga buat kemungkinan terburuk.

Kedua, gue juga sedang sibuk ngerjain projek video buat beberapa brand. Jadi, bayangin itu dicampur sama hal yang pertama di atas. Sesibuk itu gue. Kadang gue bingung, mana yang harus diduluin. Karena itu sama-sama penting. Yang satu gue dapet nilai, yang satu gue dapet duit. Dilema. #KevinSibuk

Gue juga harus mengimbangi itu semua dengan kegiatan sosial seperti manusia pada umumnya. Tidur siang, istirahat, main DotA, baca buku, atau sekedar nulis-nulis kayak gini. Walaupun lagi sibuk, blog tetap harus jalan terus. Semangatin gue ya. Caranya gampang kok, beliin aja gue iPhone 6. Satu aja, nggak usah banyak-banyak. Kalo banyak, gue malah bingung mau diapain. 

Ketiga, gue baru beli kamera. Setelah nabung cukup lama, akhirnya bisa beli kamera dengan uang sendiri. Emang ya, sesuatu yang dilakukan dengan usaha sendiri, hasilnya akan lebih berarti. Si Boy kerjaannya berkurang satu deh, karena sekarang bikin videonya pake kamera baru. Yoyoi.

Canon EOS 70D
Canon EOS 70D

Terakhir, soal buku kedua. JENG JENG JENG.

Gue baru dikasih tau sama editor, buku gue jadwal terbitnya jadi bulan Mei. Yup, masih ada dua bulan lagi. Nanti buku kedua gue terbit bareng buku pertama yang dicetak ulang. Sekarang, naskah gue lagi diedit. Gue pun masih nungguin revisi sambil minum kopi dan nulis postingan ini. Dan, gue baru inget, Senin nanti, gue ujian lagi. Deadline projek pun semakin dekat. Shit.

Kadang gue bingung, mana yang harus diduluin. Karena itu sama-sama penting. Yang satu gue dapet nilai, yang satu gue dapet duit. Dilema. Eit...walaupun lagi sibuk, blog tetap harus jalan terus. Yoyoi.

So, jadi beliin gue iPhone 6? Anyone?

...

Selamat malam minggu!

Welcome to YouTube

Semua orang seneng main game. Termasuk gue. Main game adalah salah satu penghilang stres yang ampuh setelah makan. Dan, baru akhir-akhir ini, gue coba buat video "let's play" di channel YouTube gue. Videonya berisi gameplay dan reaksi gue terhadap game yang sedang dimainkan. Salah satu game yang pernah gue mainkan berjudul Unfair Mario. Bukannya ngilangin stres, gue malah makin stres. Yang bikin game seenaknya, jebakannya nggak bisa diperhitungkan dengan logika.

Ada lagi, gue mainin game horor. Judulnya TheHouse buatan Sinthai Studio. Emang sih, game-nya simpel. Tugas kita cuma klik-klik ke benda-benda tertentu. Terus kalo udah klik gitu, kadang suka muncul jumpscare yang bisa bikin jantung copot. Makanya, main game horor itu volume-nya harus dikencengin biar berasa. Tapi jangan terlalu kenceng juga, nanti bisa budek.

Satu hal yang pasti, kalo kalian juga mau bikin video "let's play" adalah: dibilang ngikutin PewDiePie. Yah, mau gimana lagi. Risiko sih. Tapi lucu aja, masa yang boleh main game cuma satu orang doang kan? Jangan dibawa pusing, tujuan main game kan buat seneng-seneng. Reaksi orang juga beda-beda. Kalo ada yang nggak suka, YouTube kan menyediakan tombol dislike. Yoi. Sesederhana itu.

Gue sendiri pernah diprotes karena sering ngomong kasar untuk mengungkapkan kekesalan saat main game. Gue pikir, yah, gue sedang menunjukkan: "Ini loh reaksi spontan gue ketika jatuh atau kaget." Ketika ada orang yang ikut-ikutan ngomong kasar karena nonton video gue, ya, itu bukan sepenuhnya salah gue. Gue sama sekali nggak nyuruh yang nonton buat ngikutin omongan gue. Kalo di video gue nyuruh orang-orang buat ngikutin omongan gue, ya, sepenuhnya gue baru salah.

"Tapi, lu kan nyontohin yang nggak bener, Vin?"

Sama seperti sinetron. Kalo kelakuan anak-anak zaman sekarang kayak gitu (taulah), ya, jangan salahin sinetron-nya. Siapa suruh sinetron ditonton. Kita kan punya hak dan kontrol untuk itu.

Ya, beberapa hari lalu ada orang nyasar yang ngomentarin video gue. Protes kenapa gue mengucapkan nama binatang. Menyuruh gue berpikir bahwa ada berjuta-juta orang yang online dan menonton video gue di YouTube, termasuk anak-anak yang masih polos, dan dia takut, nantinya mereka akan ikut-ikutan seperti gue. Katanya, ini bukan pelajaran yang bagus untuk anak-anak.

"Yah, memang." kata gue dalam hati. Karena ini YouTube, bukan buku pelajaran. 

Welcome to YouTube

FYI, channel YouTube gue itu bener-bener random. Apa aja ada. Video main rubik, main futsal, vlog, challenge, gaming, kompilasi Instagram, semua ada. Kalo ditanya channel YouTube gue isinya apa aja, jawaban gue, "Banyaaaaaak! Lu maunya apa?" Gue ini orangnya selalu suka mencoba hal-hal yang baru. Jadi, dimaklumin aja ya kalo video gue kadang random. Tergantung arah angin. Ehe.

Gue asumsikan, pembaca blog gue di sini udah tau akun YouTube gue apa. Jadi, sambil menunggu selama seminggu untuk setiap postingan baru, cari aja gue di YouTube. Siapa tau update video baru. Kalo kadang random dan nggak mendidik, ya maklumin... Karena ini YouTube, bukan buku pelajaran.

Dan tentunya, bukan sinetron.

Sarkasme dan Pindah Rumah

Akhir-akhir ini, gue lagi keranjingan memainkan social media yang bernama ask.fm. Lumayan asik dan gampang dimainkan, makanya gue suka. Kita tinggal menjawab pertanyaan-pertanyaan yang masuk. Selain menjawab, kita juga bisa bertanya kepada user-user yang lain. Walaupun nggak punya akun, kita bisa bertanya dengan fitur yang disediakan oleh ask.fm, yaitu anonymous, atau biasa dikenal dengan sebutan anon. Gue sendiri mematikan fitur anon ini, karena gue pengin tau siapa aja yang nanya. Kadang, kalo gue nemu jawaban  kayak: "Off anon dong," gue malah kesel.

Masalahnya, kita kan bisa ngatur, mau ditanya anon atau nggak. Tinggal matiin aja fitur anonnya. Sesederhana itu. Nggak perlu ngeluh lagi. Tapi, yaudahlah ya. Nggak ngerugiin gue juga.

Agak berbeda dengan Twitter, di ask.fm, kita nggak bisa ngeliat followers kita. Iya, jadi buat yang suka modus ke followers, sayang sekali, ini bukan tempat kalian. Tapi, masih bisa modus dikit kok kalo mau, dengan cara: liatin siapa aja yang nge-likes jawaban kita. Emang, perlu usaha dikit.

Buat yang hanya kenal gue dari ask.fm, gue pasti dicap cuek dan jawabnya sesukanya, seadanya, dan semaunya. Yah, emang begitu. Di blog ini juga, gue menulis apa adanya. Kadang sesukanya, sampe yang ngerti cuma gue sendiri. Kadang seadanya, sampe yang baca juga udah selesai ditinggal kedip. Kadang semaunya, ya.... karena gue menulis apa yang gue pikirkan. Jadi, buat anak-anak dari ask.fm yang baca tulisan ini, selamat datang di blog gue, tempat gue mencurahkan pikiran dengan tulisan.

Balik lagi ke pembaca blog ini.

Di ask.fm, gue kadang suka bales-balesin (beberapa) pertanyaan dengan sarkasme. Buat yang belum tau, sarkasme menurut Wikipedia adalah suatu majas yang dimaksudkan untuk menyindir, atau menyinggung seseorang/sesuatu. Yup. Bagi beberapa orang, sarkasme adalah "Apaan sih, kok gue nggak ngerti?" Bagi beberapa orang juga, sarkasme adalah komedi. Iya, buat mereka yang ngerti.

Buat yang belum ngerti, gini contoh gampangnya. Bayangkan, di malam minggu ini, lu mau nge-date sama gebetan yang baru lu kenal dari majalah Bobo (ya, ceritanya panjang). Kalian janjian pukul 7 malam, dan saat jam udah menunjukkan pukul 18.50, lu baru bangun dari tidur siang. Lu pun buru-buru, memakai baju acak-acakan, karena belum disetrika selama 3 bulan. Saat lu sampe di tempat janjian, respon pertama dia adalah: "Baju kamu rapi banget ya?" Padahal, lu tau, baju lu acak-acakan. 

Nah, itu. Artinya adalah sebaliknya. Menyindir secara halus. Get it?

Sarcasm

Gue kadang suka memakai sarkasme setiap dapet pertanyaan-pertanyaan "bodoh" yang sebenarnya nggak perlu dijawab. Atau ketika ada hinaan-hinaan yang ditujukan buat menjatuhkan gue. Daripada emosi, mending gue sarkas-in aja, kan? Hidup tenang, hati senang~

Yang susah adalah, ketika orang yang di-sarkas-in nggak ngerti dan malah nanggepin serius. Ini pernah kejadian sama gue. Jadi, baru aja kemarin (ya, kemarin!), ada yang nanya ke gue, "Kev, rumah lo di Tangsel?" Pas ngeliat pertanyaan itu, dalam hati, gue jadi kayak, "Loh, ini ngarang atau tau dari mana coba?" Perasaan, gue kan tinggal di Jakarta, kok bisa tiba-tiba pindah rumah ke Tangsel? 

FYI, profile ask.fm hampir sama kayak Twitter. Di bawah username, ada location. Dan gue isi location gue di Jakarta. Oke, mungkin dia nggak baca. Yaudah, gue jawab aja kali ya dengan sarkas?

"Pasti lu taunya dari TVSatu." Begitu jawaban gue. Dan arti di balik jawaban itu adalah: jadi PR aja ya buat kalian. Jarang-jarang kan gue ngasih PR. Buat ngetes, sejauh mana kalian ngerti tulisan gue :))

Setelah jawaban itu di-post, semakin banyak pertanyaan yang masuk, kurang lebih kayak gini:

"Kev, kapan tayang di TVSatu?"
"Kev, lu pindah rumah? Selamat ya!"
"Yah, gue nggak nonton tadi, semoga ada tayangan ulangnya ya."

Beberapa dari pertanyaan itu gue jawab lagi. Dan respon yang gue terima pun sukses bikin gue (dan orang-orang yang ngerti) ketawa. Iya, seperti gue bilang tadi, sarkasme adalah komedi, buat mereka yang ngerti. Buat mereka yang nggak ngerti, yaudahlah ya. Jangan dimasukin ke hati. Nanti baper. Seriously, that awkward moment when you respond someone sarcastically and they take it seriously.

...

Buat yang ngerasa gue sarkas-in, jangan dimasukin ke hati ya. Toh, gue ngetiknya juga sambil nyantai dan minum kopi. Zaman udah canggih loh, kita bisa dapetin informasi dari mana aja dengan mudah, asal... jangan menelan informasi yang baru diterima itu bulat-bulat, disaring dulu. Kita juga harus jeli, misalnya dengan mencari lagi informasi itu di sumber yang lain, kemudian buat kesimpulan dari itu semua. Bijak-bijaklah dalam menggunakan social media. Jangan malah disalahgunakan...

Tapi, yaudahlah ya. Nggak ngerugiin gue juga.