Kategori

Ngenest Movie

Shooting untuk film Ngenest sebentar lagi akan dimulai. Sebelum itu, gue bersama cast yang lain udah test-cam dan ngambil beberapa scene untuk dibuatkan teaser-nya. Seperti yang gue bilang, gue akan ngasih tau update terbaru tentang proses pembuatan film ini. Jadi, langsung aja kita mulai.

Perkenalkan, gue Kevin Anggara sebagai Ernest Remaja. Gue punya seorang sahabat bernama Patrick (Brandon Salim). Karena udah muak di-bully dengan sebutan Cina sejak SD, Ernest pun mencari cara untuk bergabung bersama Fariz (Ardit Erwandha), dan gengnya; Ipeh (Amel Carla), Bakri (Bakriyadi), dan Bowo (Fico Fachriza). Ini dia foto bareng-barengnya (ada Giovander Louis juga):

Ngenest Movie

Ernest pun tetap dikerjain walaupun udah berusaha bergabung bersama Fariz dan gengnya. Patrick yang melihat itu pun selalu menegur Ernest. Yah, wajar, dua-duanya udah di-bully sejak SD. Bedanya, Ernest ingin berteman dengan orang-orang yang udah mem-bully-nya itu, Patrick nggak. Intinya, film ini adalah adaptasi dari ketiga buku best-seller yang udah Ernest tulis. Buat yang udah baca, pasti nggak begitu asing dengan tokoh-tokohnya. Paling ada yang berbeda dikit dan beberapa tambahan aja.

Di hari yang sama, lokasi shooting kedatangan Arie Kriting yang membantu kami semua untuk mengembangkan dialog dan akting. Ilmu yang gue dapatkan di sini benar-benar bermanfaat.

Ngenest Movie

Ternyata, bikin film itu susah dan capek banget. Hari itu, gue bangun pukul empat pagi untuk shooting dan baru sampe di rumah lagi pukul sepuluh malam. Padahal cuma dua scene. Shoot yang simpel aja take-nya lama banget. Nah, buat yang suka memandang sebelah mata film-film Indonesia, coba deh rasain dulu proses pembuatannya. Daripada ngomentarin, mending langsung buktiin dengan karya, kan?

Yah, memang sih nggak semua film (Indonesia maupun luar negeri) itu bagus. Tapi di balik itu semua, ada proses yang panjang dan melibatkan banyak orang. Lumayan susah loh untuk membangun tim yang solid.

Gue berharap, hasil dari film ini akan sesuai dengan usaha di baliknya. Dan semoga kalian bisa menikmati film ini nanti. Ajak temen-temen yang banyak ya buat nonton! --- Follow @ngenestmovie for more updates.



- Kevin, 18 thn, pusing tugas kuliahnya banyak.

Kuliah vs. Sekolah

Kuliah itu beda jauh sama yang namanya sekolah. Gue udah (kurang lebih) sebulan jadi mahasiswa. Dan gue merasakan banyak sekali perbedaannya. Dari teman-temannya, dosennya, mata pelajarannya (mata kuliah), sampe peraturan-peraturannya. Gue sih udah lumayan bisa adaptasi dengan lingkungan yang baru ini. Tapi, awalnya juga masih sering terbawa sama kebiasaan pas masih di sekolah. Contohnya pas mau ke toilet, harus izin dulu. Dosen dateng, bawaannya pengin berdiri dan beri salam. Semacam itulah.

Di kuliah, enaknya kita bisa ke toilet tanpa harus izin dulu. Di kampus gue sendiri (UMN), diberikan jatah 15 menit waktu telat. Lebih dari itu, dianggap absen. Jadi kalo ada mata kuliah pukul delapan pagi, gue bisa datang paling telat pukul delapan lewat lima belas menit. Musti dimanfaatkan.

Di kuliah, bajunya bebas. Jadi makenya enak dan nggak bikin cepet bosen. Nggak kaku kayak seragam sekolah yang kena keringet dikit langsung lepek. Temennya juga nggak itu-itu doang. Kalo menurut gue, circle pertemanan di kuliah itu jauh lebih luas ketimbang di sekolah. Di kuliah, gue bisa temenan sama siapa aja yang gue temui. Entah itu senior, sesama mahasiswa baru, atau bahkan dosen.

Di kuliah, banyak diadakan seminar-seminar yang cukup bagus dan bisa memotivasi. Lumayan buat mengisi waktu kalo lagi nunggu mata kuliah berikutnya. Karena kampus gue di UMN (kepunyaan Kompas Gramedia), kadang ada acara Stand Up Super Seru yang bisa bikin kampus jadi nggak jenuh.

Di kuliah, Unit Kegiatan Mahasiswa-nya (ekskul) juga banyak banget. Dan yang menurut gue keren, kegiatan kemahasiswaan di luar kelas ini diadakan oleh mahasiswanya sendiri (biasa sih senior). Udah lumayan banget lah buat mencoba aktif di kampus dengan cara mengembangkan minat dan bakat lewat UKM.

Kalo ada yang bilang sekolah lebih asik ketimbang kuliah, gue nggak setuju. Yang bikin kangen dengan sekolah itu menurut gue cuma satu: teman-temannya. Coba aja teman-teman sekolah kita satu kampus, satu program studi, dan satu kelas. Asiknya jadi double.

Kuliah itu ada ada dua, swasta dan negeri. UMN sendiri termasuk perguruan tinggi swasta. Gue masuk ke UMN dengan jalur prestasi. Jadi nggak mahal-mahal banget lah uang pangkalnya. Tapi kalo dibandingin sama negeri, masih termasuk mahal. Yah, masing-masing perguruan tinggi punya kelebihan dan kekurangannya lah. Gue masuk ke UMN karena ada jurusan yang gue minati. Dan karena pengin tinggal sendiri juga sih. =))

Nah, buat pembaca blog gue yang masih sekolah dan berniat melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi negeri, tentunya harus melewati yang namanya SBMPTN, kan? Kemarin, gue nemu video yang menarik ini:


Quipper video ini adalah sumber belajar untuk persiapan agar bisa lolos SBMPTN. Ada tiga hal menarik yang ditawarkan. Pertama, Quipper video mempunyai tutor-tutor video terbaik. Kedua, konten SBMPTN yang komprehensif (anjay!) dan efisien. Ketiga, konten tersedia secara online. Jadi gampang dan mudah digunakan kapan saja. Apalagi di zaman sekarang yang semuanya udah serba canggih.

Quipper video ini jadi kayak tempat les online. Nggak perlu lagi dah panas-panasan pergi ke tempat les beneran. Tinggal nyantai di kamar sambil buka materi videonya lewat hape. Masih ragu? Coba deh bandingin sendiri dengan biaya bimbel atau les yang lainnya:

Keuntungan Quipper

Nah, buat yang mau gabung dan ikutan, bisa langsung klik di sini. Semoga bisa membantu teman-teman pembaca yang mau masuk ke perguruan tinggi negeri.

...

Untuk merayakan Hari Batik Nasional yang jatuh pada 2 Oktober 2015 kemarin, gue dan beberapa teman sekelas janjian untuk memakai batik ke kampus:

Iya, gue yang paling kiri itu.

Pas mata kuliah petama juga gue telat dateng hampir lima puluh menit. Tapi, gue boleh tetap masuk karena harus presentasi dan udah diabsenin sama teman yang kebetulan ketua kelas. Itulah enaknya kuliah. =))