Kategori

Interabsurd: Anak Nila

Gue pernah ngalamin ketindihan, atau yang biasa disebut sleep paralysis. Dan semenjak saat itu, gue makin percaya sama hal-hal yang berbau mistis. Padahal, sleep paralysis itu adalah suatu keadaan di mana tubuh udah tertidur, sedangkan otak masih terjaga atau sadar. Nggak ada kaitannya sama hal-hal mistis sama sekali. Tapi, kebanyakan menganggapnya begitu. 

Terlepas dari itu, gue bener-bener percaya kalo 'mereka' itu sebenarnya ada. Cuman, nggak semua orang dikasih kelebihan untuk melihatnya. Nah, ada beberapa orang yang punya kelebihan ini, biasa kita kenal dengan nama anak nila (indigo). Indigo ini berasal dari bahasa Spanyol, yang berarti berwarna nila. Kenapa nila? Karena aura tubuh mereka didominasi oleh warna nila. Ya, begitu informasi yang gue dapet saat mencari tau tentang hal ini. 

Adalah Ayumi Chintiami (@AyumiChintiami), penulis buku My Creep Diary, salah satu orang yang diberikan kelebihan untuk melihat dan berkomunikasi dengan 'mereka'. Pengalamannya dengan 'mereka' ditulis dalam sebuah buku yang menarik buat dibaca... saat siang hari. Kalo bacanya malem, serem soalnya. Aduh... gue jadi merinding.

Gimana kehidupan seorang indigo? Apakah nyaman menjadi seorang indigo? Apa aja sih yang orang indigo alamin sehari-hari? Yuk, simak langsung obrolan gue di Interabsurd kali ini. \o/

Interabsurd adalah interview absurd yang diadakan sebulan sekali di kevinanggara.com. Interabsurd sudah diedit sesuai dengan kebutuhan. Terima kasih.

Interabsurd: Anak Nila

Makasih udah mau mampir ke Interabsurd di kevinanggara.com! Apa kabar nih? 

Baik, Kev. Kamu gimanaaa?

Baik juga dong.. Sekarang lagi sibuk apa, Kak Ayumi?

Sibuk kerja dan deadline buku. Sibuk menyehatkan badan juga sih. Hehehe..

Ngomong-ngomong, lagi nulis buku kedua, ya?

Iya, lagi proses penulisan gitu. Tapi belum selesai, sedikit lagi.

Bedanya apa nanti sama buku pertama?

Kalau tema sih, masih sama. Tapi nggak terlalu serem kok. Hahaha. Bedanya sama buku pertama, banyak yang orang tau di buku kedua nanti. Entah itu tokoh, tempat, atau apapun. 

Oiya, buat yang belum tau, buku pertamanya apa sih? 

Buku pertama itu judulnya My Creepy Diary. Ceritanya tentang gadis indigo yang membantu roh-roh yang nggak tenang menuju ketenangan. Ya, sebenarnya seperti diary aja sih.

Kenapa tertarik nulis tentang itu?

Awalnya sih karena pengin curhat. Hahaha. Tapi makin ke sini aku tuh jadi pengin orang tau, kalau roh-roh itu nggak seperti yang di film-film. Seram, mengganggu, bisa bunuh orang. Mereka nggak seperti itu, mereka hanya ingin diakui keberadaannya dan menurut pengalamanku mereka SAMA SEKALI NGGAK BISA bersentuhan dengan manusia. 

Jadi ya nggak mungkin kan bisa mencelakai manusia.

Pengalaman pas nulis buku pertamanya gimana? 

Pengalaman menulis sih mungkin lebih ke tiap perjalanan untuk menyelesaikan cerita itu. Perjuangannya ada yang susah ada yang gampang. Belum lagi proses editing sama pembahasan bukunya. Setiap datang ke kantor Bukune itu pasti hujan. Pasti.

Cerita yang paling berkesan di buku pertama versi Kak Ayumi?

Saat ketemu Hiro, terus bantuin dia. Sampai akhirnya dia tenang. Kayaknya tuh aku puas bisa bantuin dia. 

Menurut Kak Ayumi, indigo itu apa sih?

Indigo? Hmmm... Indigo itu warna kesukaan akuuuu. Hahaha... Bingung kalau ditanya begini. Apa ya? Indigo itu kemampuan lebih yang nggak dimiliki orang biasa lah. Simpelnya gitu (padahal mah bingung). Hahaha.

Punya kemampuan ini dari lahir atau gimana?

I think so. Aku dan keluargaku sendiri nggak terlalu memerhatikan waktu kecil. Tapi mulai sadar kalau aku ini berbeda itu sekitar kelas satu SMP. So, kayaknya sih dari kecil, tapi baru sadar saat kelas satu SMP. Gitu deh.. Agak ribet sih.

Ribet?

Iya, ribet aja. Di mana-mana bisa ngeliat 'mereka'. Kaget-kagetan juga. Kadang munculnya tiba-tiba. Jadi suka sakit gara-gara kaget itu. 

Sering ngalamin hal-hal aneh dong setiap harinya? 

Kalau ketemu roh tiap hari itu masuk dalam kategori aneh, ya itu kira-kira contohnya. Mereka ada di mana pun dan kapan pun. Biasanya juga suka ngeliat aura orang, liat pertanda-pertanda gitu. Jadi hidupku sepertinya memang selalu aneh. Hidup aneh! :D 

Enak nggak sih jadi indigo?

So far sih nggak enak. Bukannya nggak mau bersyukur atas apa yang dikasih dari Tuhan. Tapi jujur, aku manusia dan aku punya rasa takut. Sangat tidak nyaman jadi indigo, karena banyak ketakutan-ketakutan yang harus dihadapi.

Ciri-ciri indigo itu apa sih?

Ciri-ciri? Aku melihat dari diriku sendiri aja nih ya. Suka menyendiri, nggak verbal, empatinya tinggi, nggak suka diatur. Jangan harap pandangan mata orang indigo akan fokus pada saat bicara sama orang lain. Apa lagi ya? Bingung ah... Yang sering orang bilang ya hanya satu kata. 

“Aneh" itu aja. 

Hidup aneh! 

Hidup aneh! :D

Bedanya indigo sama paranormal?

Ini sih nggak tau jelas ya. Bisa jadi ada orang indigo yang profesinya paranormal. Tapi kalau aku pribadi nggak suka disebut paranormal. The fact is, indigo is not normal. Kenapa malah disebut paranormal? Hahaha.

Pernah ngalamin ketindihan atau yang biasa disebut sleep paralysis?

No

Wah, kirain pernah! Hahaha. Kalo astral projection?

Nah, kalau yang ini (mungkin) pernah. Kalau memang dianggap astral projection ya, dalam kondisi koma aku bisa jalan-jalan ke mana-mana. Astral projection itu suatu keadaan di mana jiwa kita melakukan perjalanan sendiri ke tempat lain. Jadi jiwa kita terpisah dari tubuh. Tapi, akunya kayak 'diculik' gitu.

Ngeliat apa aja?

Cuman ngeliat air aja. Terus denger suara minta tolong.

Serem... 

Iya. Perasaanku takut, tapi ya nggak bisa apa-apa. 

Seandainya dilahirkan ulang, mau nggak punya kemampuan indigo?

As a human, I will say no. Tapi jika memang Tuhan buat aku kayak begini lagi ya mau gimana. Diterima dan dinikmati aja sih. 

Ada pesan-pesan buat pembaca, Kak Ayumi? 

Pesan serius nih ya. Tentang indigo, anggaplah orang indigo itu sama seperti orang biasa. Karena pada dasarnya memang sama. Masalah kelebihan mereka, itu hanya bonus. Jangan terlalu dianggap hebat, keren atau apalah. Karena sejujurnya jadi indigo itu malah berat. 

Pesan sponsor, BELI MY CREEPY DIARY yaaaaaaaaa! Eh, beli bukunya Kevin juga boleh deh! Hahaha. Sukses semuanya. Tuhan berkati.

Liburan Selesai

Gimana? Masih pada semangat kan buat nyimak postingan jalan-jalan gue? Atau udah banyak yang gugur karena nggak kuat buat ngelanjutin? Ya, apapun itu. Kali ini, gue nggak akan bikin kalian ngiler kayak postingan-postingan sebelumnya. 

26 September 2013

Bangun sekitar pukul 08.00, hari ini kami akan mengunjungi vihara di sekitar... (maaf, gue lupa daerahnya, yang penting masih di Singapore). Gue juga nggak tau sebelumnya pengin ke sini. Makanya, ngikut-ngikut aja. Kami naik taksi seperti biasa. Setelah itu itu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Cuaca hari ini sedikit mendung. Bener aja, nggak ada angin nggak ada hujan, tiba-tiba hujan. Untung aja kami udah sampe di vihara-nya. Kami melakukan sembahyang menurut kepercayaan masing-masing. Kebetulan, kepercayaan kami sama semua.

Singkat cerita, sehabis dari vihara yang gue nggak tau namanya, kami langsung pergi ke Harbour Front. Niatnya mau jalan-jalan, tapi malah sarapan juga di sana. Gue masuk ke foodcourt-nya dan disuruh pilih mau makan apa. Yaudah, keliling-keliling dulu buat liat makanan yang ada. Tempat pertama, masakan Padang. Udah jauh-jauh ke sini, masa makan makanan Indonesia juga, Vin? Jalan lagi. Tempat kedua, masakan mie dari Jepang a.k.a Ramen. Mie susu di Indonesia lebih enak, Vin. Jalan lagi. Aha, lumayan nih. Tempat ketiga, masakan sejenis chicken katsu, yang masak bapak-bapak. Di Seven Eleven juga ada kali, Vin. 

Daripada kelamaan, yaudah langsung pesen aja. 

....

Kami masih berjalan-jalan di Harbour Front. Hari terakhir yang dipake untuk beli oleh-oleh. Yang membuat bawaan lebih banyak daripada pas pertama dateng. Nggak di Harbour Front aja, kami jalan-jalan lagi (beneran jalan kaki) di tempat lain. Ke tempat yang lagi-lagi gue nggak tau namanya. Gue ngikut aja buat nemenin beli oleh-oleh. Kemudian makan siang lagi di (kali ini gue tau namanya) Bugis Street. Tuh, bener kan sampe sini kalian nggak ngiler kayak postingan-postingan sebelumnya? Apa gue bilang. 

Malamnya, bersama salah satu kakak sepupu gue yang bernama Fendy (kembarannya Fery), kami jalan-jalan untuk menikmati malam di kota Singapore. Awalnya dia yang ngajak, sih. Kami jalan-jalan naik MRT (Mass Rapid Transit). Sempet kelewatan satu halte pas mau ke Chinatown dan harus balik lagi. Awkward banget. 

Percayalah, baca rute MRT di sini lebih susah daripada baca rute busway di Jakarta. Ini adalah salah satu skill yang wajib dikuasai kalo mau jalan-jalan yang cepet dan murah. Tips: kalo berdua, usahakan masuk pintu MRT-nya bareng. Saat nempelin kartu di pintu, kalo nggak ada yang jagain, langsung masuk berdua aja nggak apa-apa. Daripada habis ongkos dua kali. 

Malam di Singapore

Pertama, kami jalan-jalan ke Orchard Street dulu. Nyobain es krim 1 dollar yang terkenal itu. Disajikan dengan roti atau semacam wafer, es krimnya enak dan punya tekstur yang lembut. Pas dimakan, rasain deh sensasi es krim yang meleleh di dalam mulut. Beuh... Ada banyak rasa: cokelat, stroberi, vanila, dan lain-lain. Penjual eskrim ini kayaknya suami-istri (udah tua keliatannya), dan mulai jualan sejak siang.

Orchard Street

Lanjut ke Chinatown, gue sempet beli case baru buat iPhone. Murah-murah, euy. Terus jalan-jalan lagi sampe kaki capek, nongkrong di sekitar jalanan Chinatown sambil ngeliat orang-orang dan mobil yang lewat, keliling nyari makanan buat dibawa pulang, dan akhirnya hari udah semakin malam, kami berdua pulang ke hotel.

27 September 2013

Pulang ke Jakarta!

***

Udah? 

Belum.

"Kali ini, gue nggak akan bikin kalian ngiler kayak postingan-postingan sebelumnya." Oke, gue boong. Berikut ada beberapa foto yang sayang buat dibuang gitu aja. So, selamat menikmati.

Marina Bay Sands Hotel
Dari lantai 57.

Marina Bay Sands Hotel
Sempet-sempetnya foto cewek Jepang sebelum berenang.

Marina Bay Sands Hotel

Marina Bay Sands Hotel

SuperStar Virgo
Baca buku di sini gimana nggak nyaman?

SuperStar Virgo
Kalo capek baca, tinggal browsing deh.

SuperStar Virgo
View perpustakaan.

Awan dari jendela pesawat
Awan dari jendela pesawat.

Awan dari jendela pesawat
Awan dari jendela pesawat juga.

Marina Bay Sands Hotel
Kamar, si kembar lagi tidur.

Si kembar
Si kembar, buat yang nanyain. 

SuperStar Virgo
Lantai 12 di malam hari.

Jalan-jalan!

Sekian ~~~\o/

Berenang di Atas Langit

25 September 2013

Bangun-bangun, gue masih ada di pesiar. Nanti, sekitar pukul 01.00 siang, pesiar dengan nama SuperStar Virgo ini akan mendarat kembali di Harbour Front. Gue masih sempet sarapan seperti biasa di lantai 12. Menikmati makanan yang disediakan sambil ngeliat matahari terbit. Habis itu, ngelilingin pesiar dan foto-foto. Sementara yang lain tetap di casino. Pas balik ke kamar, gue beres-beres barang bawaan karena bentar lagi pesiar akan mendarat.

Sesampainya di Harbour Front, gue langsung menuju pintu keluar karena akan dijemput. Jemputannya akan membawa gue ke Marina Bay. Kakak sepupu gue yang nggak ikut naik pesiar udah bersiap-siap mau ke Marina Bay juga. Waktu gue di sini tinggal dua hari, yang berarti gue harus bener-bener menikmatinya dengan baik. Jarang-jarang juga liburan ke sini. 

Mobil jemputan udah memasuki daerah Marina Bay dan sebentar lagi kami akan sampe. 

Begitu berhenti di sebuah bangunan yang ternyata itu adalah hotelnya, pintu mobil langsung dibukain oleh seorang penjaga hotel. Kami langsung masuk untuk check-in. Gue yang baru nyadar akan nginep di sini selama dua hari langsung kaget. Kaget karena hotelnya gede banget, men. Lagi asik foto-foto, handphone gue tiba-tiba terkoneksi sama WiFi hotel ini. Oooh, namanya Marina Bay Sands Hotel toh. Speed internetnya oke juga, nih.  Tapi masih cepetan Bolt! gue, sih.

Nggak berapa lama kemudian, kakak sepupu gue yang kembar udah nyampe. Kami semua langsung naik ke atas, menuju kamar. Mau naik lift-nya aja harus pake sebuah kartu gitu. Semacam access card juga, yang dipake buat masuk ke kamar dan naik ke lift. Kalo nggak pake kartu tersebut, tombol angka di dalem lift-nya itu nggak bisa dipencet. Jadi kalo lupa bawa kartu, bukan cuma nggak bisa masuk kamar, mau naik lift juga nggak bisa.

Nah, sesampainya di kamar, nggak usah takut dan bingung mau tidur di mana, karena kamarnya itu gede. Ada dua ranjang besar yang muat untuk dua orang, sebuah sofa, TV LCD, dan dua bangku kecil yang nyaman buat didudukin. Kamar mandinya juga nggak kalah gede. Ada bathtub, dua wastafel yang bisa dipake buat nyuci baju, dan dua ruangan kecil buat showeran serta menuntaskan hasrat BAB. Ini foto kamarnya pas malem hari: 

Marina Bay Sands Hotel

"Berenang yuk, di atas," kata kakak sepupu gue. 

Saudara kembarnya yang satu lagi males dan memilih buat tidur dulu. "Ntar aja," jawabnya.

Kemudian mereka berdua tidur dan nyuruh gue bangunin sekitar pukul 04.00 sore nanti. 

***

Oke, udah pukul 04.00 dan waktunya berenang di atas. Kami semua naik ke sebuah lobi di lantai 55. Hotel ini punya tiga bangunan, jadi kalo mau ke lantai 57 (tempat kolam renang dengan sebutan Infinity Pool ini berada), kita harus naik lewat sini. Nggak bisa langsung ke lantai 57. Nah, pas mau naik lift, ada persyaratannya juga. Kami harus memakai sebuah gelang berwarna pink yang didapat pas check-in tadi. Kebetulan, kami sekarang ada enam orang, dan gelangnya cuman tiga. Sisanya, ada di kamar. Terpaksa, harus balik lagi. 

Pas udah lengkap, kami langsung naik ke lantai 57 yang biasa disebut dengan Sands Sky Park. Awalnya, gue emang nggak pengin berenang, makanya nggak bawa celana renang. Selain alasan nggak jago berenang, alasan lain yang gue keluarkan adalah dingin. Jadi, cuman kakak sepupu gue yang ngajakin berenang tadi yang bawa. Sisanya, nggak bawa. Emang ya, penyesalan datengnya belakangan. Pas ngeliat kolam renangnya, gue sempet bengong dulu. Dan secara tiba-tiba, gue langsung girang dan bilang dalem hati, "Pokoknya gue harus berenang di sini!"

Iya, gimana gue nggak berubah pikiran pas ngeliat kolam renangnya kayak gini:

Marina Bay Sands Hotel

Tapi gue baru inget nggak bawa celana renang ke atas. Terpaksa balik lagi.

Dua kali bolak-balik, demi berenang.

***

Celana renang yang kependekan nggak membuat gue berubah pikiran. Gue tetep harus berenang di sini. Setelah sampe lagi di atas, buru-buru deh gue lepasin baju dan celana, terus nyebur. Sambil bawa handphone, karena pengin foto-foto. Hehe. Hehehe.

Marina Bay Sands Hotel - Infinity Pool

Marina Bay Sands Hotel

Marina Bay Sands Hotel

Nggak usah malu, karena kebanyakan turis di sini juga dateng dengan tujuan foto-foto. Berenang mah belakangan. Gue juga gitu. Pas lagi ada di infinity pool ini, orang-orang pasti penasaran dan langsung menuju ke ujung kolam renang. Pengin liat, gimana sih ujungnya ini? Ternyata nggak serem-serem banget.

Marina Bay Sands Hotel

Ujung kolam renang ini emang tempat yang view-nya paling bagus buat dipake foto-foto. Dengan latar belakang bangunan-bangunan di Singapore, gue serasa berenang di atas langit.

Marina Bay Sands Hotel

Buat yang nggak bisa berenang, tenang aja. Infinity pool ini tingginya nggak lebih dari 1,2 meter. Buat jalan sampe ke ujung bisa lah. Habis itu, foto-foto deh. Nah, setelah puas foto-foto, gue ngerasain dong yang namanya berenang di sini. Sebelumnya handphone dan kacamata ditaro dulu. Oiya, orang-orang yang boleh berenang di sini itu cuman orang yang nginep. Tamu-tamu boleh sih naik, tapi setau gue bayar. Itu juga nggak boleh berenang.

Marina Bay Sands Hotel

Puas berenang di atas langit, gue mengistirahatkan badan di tempat pemandian air panas. Letaknya nggak jauh dari infinity pool. Tinggal duduk, ngerasain deh badan serasa dipijet-pijet. Sambil ngeliat pemandangan laut yang dihiasi oleh kapal-kapal yang dateng dan pergi.

***

Malamnya, setelah mandi dan ganti baju, kami pergi mencari makan di daerah sekitar Chinatown. Makan di foodcourt sebuah mall yang gue nggak tau namanya. Tapi yang gue tau, gue kenyang banget. Lalu, kami belanja makanan ringan buat di hotel nanti. Habis itu, balik ke hotel. Yang lain ke casino di dalam hotel, gue lanjut ke kamar. Iya, hotel Marina Bay Sands itu gede banget. Casino, mall, restoran, sampe tempat nongkrong, semuanya ada. 

Gue naik lift sendiri. Sesampainya di lantai atas, tempat kamar gue berada, gue ngeliat ke jendela kaca yang ada di sebelah lift. Sebuah pemandangan cantik tersaji di depan mata gue. Kota Singapore di malam hari, penuh tebaran lampu dan cahaya warna-warni. Walaupun udah malam, kota ini terasa masih hidup. Pemandangan ini nggak gue lewatkan begitu aja. Gue ngeluarin handphone, kemudian mengabadikan foto kota Singapore di malam hari. 

Marina Bay Sands Hotel

Cara Membuat Mie Rebus Susu

Walaupun tema blog gue bulan ini adalah "jalan-jalan", nggak ada salahnya kan kalo kali ini gue coba bahas tentang makanan. Bukan, bukan makanan mewah selama gue di pesiar kemarin. Tapi makanan sederhana yang udah deket banget dengan kehidupan kita, khususnya anak kost. Ini juga jadi postingan pertama gue di blog ini yang bahas tentang resep makanan. So, di postingan ini, gue akan ngebahas cara membuat Mie Rebus Susu

Iya, kalian nggak salah baca. 

"Hih, enek ah!"
"Emang enak? Ada-ada aja lu!"
"Rasanya pasti aneh!"

Buat yang merasa cemen, jangan dilanjutin bacanya. Buat yang suka tantangan dan pengin matinya nggak penasaran, mie rebus susu ini patut dicoba. Karena mie rebus biasa itu udah terlalu mainstream. Selagi masih muda, sekali-kali nggak apa-apa lah nyobain yang namanya surga dunia. Karena di surga nanti nggak ada yang jual ini. 

Berawal dari twitnya si @JukiHoki yang ngomongin tentang mie rebus susu, gue jadi penasaran dan pengin nyobain. Sebelumnya udah tau sih dari Kaskus, tapi belum pernah nyobain langsung. Makanya, biar gue nggak mati penasaran, hari itu juga gue langsung beli bahan-bahannya dan melakukan eksperiman di rumah. Silakan simak caranya.

Perhatian: Pengin nyobain resep ini silakan aja, tapi gue nggak tanggung ya kalo lu jadi nggak suka. Karena selera orang itu beda-beda. Bagi yang emang nggak suka susu, yaudah nggak usah dicobain lagi. Dan, kalo kalian punya jiwa penasaran yang tinggi.. silakan dicoba.

Bahan: 
1. Mie rebus. Gue sih pake Indomie rasa Ayam Bawang. 
2. Susu full-cream yang putih. Inget ya, full-cream. Karena susu full-cream itu nggak terlalu manis dan rasanya gurih. Jangan yang kental manis kalo nggak mau enek duluan. Tapi sih, boleh-boleh aja kalo perut lu terbuat dari karet. Gue pake susu Ultra Milk full-cream yang bungkusnya warna biru muda itu. Susu bubuk? Bisa. 
3. Bahan pelengkap kayak keju, daging, telur (masaknya dipisah), dll. Gue sih polos aja.

Peralatan:
1. Panci.
2. Kompor.
3. Api (ya iyalah!).

Siap?

Mie rebus susu

Cara membuat:
1. Seperti biasa, buka bungkus indomie dan tuang bumbunya ke mangkok. Kecuali yang bumbu minyaknya, ya. Soalnya bikin enek. Jadi, pake yang bumbu biasa dan cabenya aja. Kalo pake keju, bumbu dan cabenya dimasukin 3/4 aja. Kalo dimasukin semua, nanti keasinan. Tapi, semuanya balik lagi ke selera. Gue bikin nggak pake keju, makanya gue masukin semua.
2. Nyalain kompor pake api, jangan pake air. Kita mau masak, bukan nyirem tanaman. Panasin air di dalam panci sampe mendidih. Terus, masukin indomienya. 
3. Aduk-aduk dulu sebentar. Kira-kira satu menitan, air rebusannya dibuang. Kalo udah, masukin deh susu full-cream yang tadi. Aduk-aduk lagi. Apinya jangan gede-gede. Nah, kalo gue, sejak awal langsung pake susu full-cream yang udah disiapin. Jadi nggak repot-repot lagi buang-buang air rebusan. Buat yang pake susu bubuk, susu bubuknya dicampur sama air. Dikira-kira aja. Sesuai selera.
4. Masukin bahan pelengkap sesuai selera.
5. Kalo udah mateng, langsung sajiin deh di mangkok. Aduk-aduk sampe rata. 
6. Silakan menikmati! 

Mie Rebus Susu

Buat yang masih nanya, rasanya enak atau nggak, silakan langsung coba sendiri. Rasanya sama kayak Spaghetti Bolognese pake mayones, tapi versi anak kost. Beuh..

***

Si Juki ini emang salah satu capres yang berani beda. Kapan lagi coba ada capres yang bagi-bagi tips masak mie rebus susu? Kalo kata Juki, nggak apa-apa dianggap aneh nyobain mie + susu. Alexander Graham Bell juga awalnya dianggap aneh, men

Bahkan di Kaskus, gue juga pernah nemuin salah satu resep yang nggak kalah ekstrim. Iya, indomie goreng pake susu. Namanya, MilkGoreng. Resep yang wajib dicoba sebelum mati. Sebagai orang yang suka tantangan, gue harus nyobain ini nanti. 

Mie Rebus Susu ini kalorinya banyak. Jadi buat yang lagi diet, jangan coba-coba deh. Kalo gue sih, emang pengin gemukin badan. Hehehe. Di tempat-tempat lain, setau gue udah ada yang jual. Tapi karena di daerah gue belum ada, makanya bikin sendiri. Buat yang dari awal udah enek, ya nggak usah dicoba. Intinya: selera orang beda-beda. 

Selamat berkreasi! #TimMiePakeSusu

Bebas di Lantai 12

Liburan di pesiar gue mulai dengan tidur. Hari pertama gue pakai untuk mengistirahatkan badan, biar besok-besok badan jadi seger dan gue siap menjelajah seisi pesiar dengan penuh semangat. Gue keluar kamar cuma untuk makan malam dan jalan-jalan karena di dalam kamar... dingin. Yah, anggap aja bersantai-santai dahulu, bersenang-senang kemudian. 

23 September 2013

Pesiar akan mendarat di Phuket (Thailand) pada pukul 18.00 sore. Nggak banyak hal-hal yang gue lakukan hari ini. Jalan-jalan sebisanya aja dalam pesiar. Dan hari ini, gue sengaja nggak nge-charge iPhone gue. Pengin ngeliat sejauh mana gue bisa bertahan.

Beberapa jam terlewati dengan sangat membosankan. Gue disuruh jalan-jalan, tapi malah males dan memilih untuk tidur-tiduran di dalam kamar.

Pukul 18.00 sore, gue nyampe di Phuket. Rencananya, pesiar akan berlabuh di sini sampai pagi nanti. Gue nggak jalan-jalan di sini. Karena keluarga gue yang lain juga nggak niat sih sebenarnya. Gue hanya turun sebentar buat nemenin nenek, adiknya kakek, dan tante belanja oleh-oleh. Buah-buahan tepatnya. Habis itu, langsung balik ke pesiar. Walaupun aktivitasnya cuman gitu aja, tapi ada satu fakta menarik yang bisa gue simpulkan:

Gue bisa melewati hari ini tanpa menyentuh iPhone.

24 September 2013

Hari ketiga, tenaga dan batere iPhone gue udah terisi penuh.

Gue dibangunkan tepat pukul 06.30 untuk sarapan. Gue bangun dengan semangat dan langsung beranjak mandi. Tempat sarapan yang akan gue kunjungi nanti adalah salah satu tempat yang paling gue sukai di dalam pesiar ini. The Mediterranean Buffet adalah nama dari tempat yang gue maksud. Salah satu restoran yang berada di lantai 12 ini menarik hati gue sejak kedatangan gue pertama kali, 3 tahun lalu. Walaupun menarik hati, gue nggak sampe jadian kok. Gue bertiga (nenek dan tante) menuju ke lantai 12 menggunakan lift. Keluar dari lift, belok ke kiri dikit, lalu lurus terus melewati kolam renang.

Kolam Renang di lantai 12 SuperStar Virgo

Di sayap kanan dan kiri kolam renang, ada tempat duduk yang langsung menghadap ke laut lepas. Capek berenang? Istirahat di sini sambil ngeliat pemandangan laut sepertinya ide yang bagus. 

SuperStar Virgo

Setelah melewati kolam renang, The Mediterranean Buffet langsung keliatan saat pintu otomatis (yang kayak di mall-mall itu) membuka. Taraaaa:

SuperStar Virgo

Tentunya, harus antre dulu biar masuknya tertib. Kebetulan, pagi ini masih sepi. Kami masuk dengan menggunakan access card. Lalu, mbak-mbak cakep yang jagain pintu masuk akan berkomunikasi dulu dengan beberapa asisten di dalam (menggunakan semacam telepon yang biasa dipake satpam), untuk memastikan ada meja yang kosong atau nggak. Setelah mendapatkan meja yang kosong, kami dipersilahkan masuk dan duduk di meja sesuai nomor yang tertulis. Nah, pasti kalian bertanya-tanya, kenapa gue suka tempat ini? 

The Mediterranean Buffet seingat gue buka empat kali dalam sehari. Pagi, siang, sore (waktu minum teh), dan tengah malam. Menu-menu yang disediakan juga berbeda-beda. Pagi hari, gue bisa menemui makanan-makanan breakfast ala Eropa maupun Asia. Ada makanan "ringan" seperti sereal, roti, dan kue yang bermacam-macam. Untuk minumannya, ada susu, kopi, teh, jus, dan air putih. Siang hari, makanan yang disediakan lebih "berat" porsinya. Sore hari, hanya teh dan beberapa snack kecil. Tengah malam = sama dengan siang hari. 

Semuanya tinggal ambil sendiri. Sebanyak-banyaknya, bebas! Dan yang bikin gue makin betah, makan di sini bisa sambil ngeliatin laut lepas. Perut kenyang, mata juga kenyang. 

The Mediterranean Buffet SuperStar Virgo

The Mediterranean Buffet SuperStar Virgo

Makan sambil memandang jendela dengan pemandangan laut lepas itu asik. 

Pukul 12:00 siang, ada acara BBQ. Tempatnya ada di kolam renang yang pertama kali gue lewati. Banyak stand makanan yang dibuka di sana, dan semuanya gratis. Ada es krim, daging panggang, kue, macem-macem deh. Rasanya, kayak ngerayain tahun baru di atas pesiar. Rame banget. Biar lebih meriah, ada seorang DJ di dekat kolam renang yang memutar musik. Asoy. Gue nggak mau pulang kalo gini caranya mah. Seminggu aja gue di sini, mungkin berat badan gue bisa nambah drastis. 

Cukup makan-makannya.

Tujuan pesiar hari ini adalah Langkawi. Pesiar sampai di Langkawi kira-kira pukul 13.30 siang. Ceritanya udah bisa dibaca di sini.

...

Selesai jalan-jalan di Langkawi, nenek, adiknya kakek, dan tante gue balik ke tujuan utama mereka datang ke sini. Casino. Sedangkan gue, inilah waktunya untuk menjelajah isi pesiar. Yeah

Gue mulai dari perpustakaannya. Masih di lantai 12, perpustakaannya ada dekat dengan lift. Keluar lift, belok kiri dikit, lurus.. Nah, perpustakaannya ada tepat di sebelah kiri tempat gym. Perpustakaannya nggak terlalu besar. Dilengkapi dengan beberapa komputer untuk browsing, sofa, dan beberapa lemari dari kayu yang membuat tempat ini jadi nyaman. Sebagian besar koleksi bukunya berbahasa Inggris. Makanya, gue bawa beberapa buku sebagai bahan bacaan. Termasuk buku gue sendiri dong. Hehe. Hehehe.

SuperStar Virgo

SuperStar Virgo

SuperStar Virgo

Asiknya baca buku di sini, gue masih tetep bisa ngeliat pemandangan laut lepas. Makanya, gue sengaja pilih tempat duduk yang menghadap ke jendela. Baca buku sambil dengerin musik slow, terus ngeliat ombak yang menari dari atas pesiar. Beh... 

Setelah baca buku (walaupun belum selesai), gue masih tetep berkeliaran di lantai 12. Gue pergi ke belakang pesiar. Melewati kolam renang tadi, juga The Mediterranean Buffet. Ternyata, masih ada sebuah restoran gitu dan kolam renang kecil. 

SuperStar Virgo

Gue jalan-jalan sebentar, menikmati udara sore hari dengan bebas. Angin di atas pesiar lumayan kenceng. Kalo badan gue seberat kertas, mungkin gue udah terbang karena tertiup angin. 

Tenang.. gue belum turun dari lantai 12. Gue pengin menikmati sunset dari atas sini. Gue malah naik satu lantai (sebenarnya bukan lantai 13 juga sih) dari tempat diadakannya BBQ. Karena nggak ada yang bisa diminta untuk fotoin, gue malah sempet foto diri sendiri pake timer. Bolak-balik, ngecek fotonya, ternyata jelek, ulang lagi. Mungkin, orang-orang yang lagi bersiap menikmati sunset di seberang gue juga bingung kali, "Ini anak ngapain dari tadi bolak-balik?" 

SuperStar Virgo

SuperStar Virgo

SuperStar Virgo

Puas menikmati udara sore dari lantai paling atas, gue nggak langsung turun. Gue pergi ke luar untuk bersiap-siap mengabadikan foto sunset

SuperStar Virgo

Nggak bagus-bagus banget hasilnya. Tapi yang jelas, saat itu langitnya berwarna biru gelap dan merah muda. Matahari udah mau tenggelam. Lagi asik-asiknya motret, tiba-tiba ada empat orang (keluarga) yang juga sedang melakukan hal yang sama dengan gue. Yakin deh, bentar lagi gue pasti disamperin untuk fotoin mereka. 5.. 4.. 3.. 2.. 1.. 

SuperStar Virgo

"Can you..."

"Yes.. yes.." pertanyaannya belum selesai, tapi udah gue jawab sambil menganggukkan kepala. Kemudian gue mengambil kamera yang diberikan dan mengabadikan foto mereka berempat. Keluarga bahagia dengan dua orang anak yang sedang menikmati liburannya di sini. Setelah mengucapkan terima kasih, mereka masih melanjutkan foto-foto dengan latar belakang langit yang udah mulai menggelap.

SuperStar Virgo

***

Inilah malam terakhir gue di dalam pesiar. Walaupun kebanyakan ceritanya berasal dari lantai 12. Dari nggak ada yang fotoin gue, sampe disuruh fotoin orang lain. Dari yang males pergi ke luar kamar, sampe akhirnya keluyuran di pesiar sampe tengah malam. Dari hari pertama dan kedua yang biasa-biasa aja, sampe hari terakhir yang bagi gue berkesan. Gue agak nyesel, kenapa hari pertama dan kedua gue sebagian besar cuma dihabiskan di dalam kamar. Justru hari terakhir lah gue baru beneran "jalan-jalan". 

Gue nggak bisa tidur-tiduran terus di kamar. Kalo gitu mah nggak usah liburan, di rumah juga bisa tidur-tiduran doang. Gue harus ke luar dari kamar dan mencoba sesuatu yang baru. 

Dan gue baru sadar, di hari terakhir inilah gue baru mendapat banyak pelajaran karena udah jalan-jalan. Dari sopir taksi di Langkawi, gue belajar tentang budaya baru. Dari sekeluarga yang minta difotoin, gue belajar bahwa sebenarnya gue cuma harus lebih berani untuk minta tolong orang fotoin gue. Biar nggak capek aja bolak-balik foto pake timer sendiri. Terakhir, gue juga belajar... bahwa hanya dengan pergi lah gue tau ke mana harus pulang

Tapi, gue belum mau pulang. Besok pagi, pesiar akan kembali mendarat di Harbour Front. Lalu, gue pun akan melanjutkan sisa liburan ini di... Marina Bay

Liburan Dimulai

22 September 2013

Pukul 04.00 pagi, gue bangun dan bersiap-siap untuk mandi. Semua anggota keluarga gue yang hari ini akan liburan juga sedang bersiap-siap. Setelah semua persiapan selesai, kami berenam (gue, nenek, adiknya kakek, tante, kakak sepupu gue yang kembar) pergi ke bandara. Nyampe-nyampe sekitar pukul 06.00. Pesawat yang kami naiki akan lepas landas pukul 07.15. Ada jeda waktu selama satu jam lebih lima belas menit. Di saat seperti ini, memang sih lebih baik datang kepagian daripada datang kesiangan. Udah lumayan lama nungguin, boarding room pun akhirnya dibuka. Masih sambil menunggu pesawat lepas landas, gue menghabiskan waktu dengan memainkan rubik yang sengaja gue bawa. Dari yang 3x3, sampai yang 5x5.

Keesokan harinya, seharusnya gue sekolah. Tapi karena mau liburan, makanya harus izin dulu. Setelah bosan memainkan rubik, gue ngebayangin teman-teman gue yang besok harus bangun pagi, mandi dengan air dingin, terus duduk di bangku sekolah sampai siang hari. Sementara gue, akan menikmati liburan dalam beberapa jam ke depan, selama seminggu penuh. Tentunya, tanpa harus repot memikirkan tugas-tugas di sekolah. Ha. Ha. Ha.

***

Pesawat yang gue tumpangi baru aja mendarat di bandara Changi Airport, Singapore. Setelah mendarat, hal pertama yang gue lakukan adalah mencari WC. Kebelet. Ransel yang gue bawa terasa enteng di situasi seperti ini. Kecepatan memang berbanding lurus dengan tingkat kebelet seseorang. Makin kebelet, makin cepatlah kecepatannya untuk mencari WC terdekat. Iya, mungkin penemuan ini bisa dinamakan "Hukum Kebelet" dan dimasukkan ke dalam materi Fisika untuk kurikulum tahun depan. Kecepatan = tingkat kebelet x jarak WC terdekat.

Setelah menemukan WC terdekat, gue segera masuk dan menyelesaikan panggilan alam ini sampai tuntas. Sementara keluarga menunggu di luar WC. Beberapa ada yang jaga koper, beberapa juga ada yang ikutan ke WC. Selesainya, gue langsung ngisi air minum di depan WC. Ada semacam wastafel yang airnya bisa langsung diminum. Wastafelnya keren, guenya norak.

Changi Airport

Dari bandara, gue langsung menuju ke Harbour Front menggunakan taksi. Perjalanan kurang lebih memakan waktu sekitar 15 menit aja (kalo gue nggak salah inget). Harbour Front ini adalah semacam shopping mall yang jadi satu dengan pelabuhan feri dan pesiar. Sesampainya di sana, kami lalu menunggu pesiar yang akan datang kira-kira pukul 01.00 siang. Sambil menunggu, kami jalan-jalan di sana dan liat-liat aja. Abis kalo beli, mahal. 

Intinya, rombongan yang akan naik pesiar nanti harus udah ada di Harbour Front satu jam sebelum pesiarnya datang. Gue menunggu di tempat duduk yang udah disediakan. Sambil jagain koper. Yang lain pada sibuk jalan-jalan dan (masih) liat-liat dari toko satu ke toko lainnya. Dari tempat duduk masih kosong, sampai udah penuh semua. Sempet diusir karena ternyata tempat duduknya belum dibuka tapi gue udah main masuk aja. Terpaksa berdiri nungguin. Sambil jagain koper. Saat pesiar datang nanti, baru deh diatur lagi.

Harbour Front

Kakak sepupu gue yang kembar, dua-duanya nggak ikut naik pesiar karena pengin bebas jalan-jalan selama di sini. Jadilah gue hanya berempat di atas pesiar nanti. Ini kali keduanya gue naik pesiar yang mempunyai nama SuperStar Virgo. Pertama kali pas umur 13 tahun, saat masih belum punya blog sebagai wadah untuk menceritakannya. Sampai udah punya blog, dan akhirnya kesampean juga mau nyeritain. Singkat cerita, pesiar udah datang dan menurunkan para penumpang sebelumnya. Kami semua yang nungguin pesiar dari tadi diarahkan biar masuknya nanti tertib dan nggak dorong-dorongan. Di sebuah lorong (atau sebut saja jembatan) antara Harbour Front dan pesiar, kami udah langsung disambut oleh kru-kru penghibur di pesiar.  

Jangan bayangin kami disambut dengan atraksi ekstrim seperti menelan bara api atau dilemparin tepung. Nggak, nggak kayak gitu. Para kru pesiar, cowok dan cewek yang cakep-cakep, menyambut kami dengan sangat ramah. Ngajak foto bareng, terus nanti fotonya dicetak dan bisa dibeli di dalam pesiar. Tentunya, kesempatan ini nggak gue lewatin begitu aja. Kapan lagi coba diajak foto-foto sama bule. Di luar negeri lagi. Padahal kalo di Indonesia, gue yang nyari-nyari mereka buat ngajak foto. Tapi sayang, gue nggak sempet liat hasil fotonya dan beli versi cetaknya. Nggak apa-apa, yang penting sempet ngerasain foto bareng. 

Paragraf sebelum ini adalah paragraf paling norak yang pernah gue buat. 

Sampai di pesiar, gue langsung menuju ke kamar yang berada di lantai 6. Pesiar SuperStar Virgo yang gue naiki ini melayani rute dari Singapore - Thailand (Phuket) - Malaysia (Langkawi) - Singapore. Pesiar dengan 13 lantai ini mempunyai panjang sekitar 268 meter dan lebar 32 meter. Jadi, bayangin kalo dipake buat main bentengan. Yang ada, belum nyampe benteng lawan, udah kecapean duluan. Mau naik turunnya juga tinggal milih, ingin dengan lift atau tangga. 

Isi pesiar ini mirip banget sama hotel. Disusun sedemikian rupa sampai-sampai yang naik bisa nggak nyadar kalo mereka lagi ada di dalam sebuah pesiar. Karena udah sekitar 3 tahun semenjak pertama kali ke sini, gue memakai waktu gue buat keliling-keliling di dalam pesiar. Nah, ini dia denah pesiar SuperStar Virgo (klik untuk memperbesar):

SuperStar Virgo Deck Plan

Penampakan di lantai 7, tempat pertama para penumpang menginjakkan kakinya di atas pesiar:

SuperStar Virgo

Di dalam pesiar ini, gue selalu diingatkan untuk membawa semacam access card yang dipakai buat keluar masuk kamar dan melakukan pembayaran. Selama di pesiar, nggak ada pembayaran cash karena semuanya bakal dicatat lewat access card tersebut. Kalo lupa bawa kartu ini, udah dipastikan gue nggak akan bisa masuk kamar. Masing-masing penghuni kamar dapet satu. Ini dia access card gue: 

Access card at SuperStar Virgo
Atas pas tahun 2010, bawah pas tahun 2013.

Capek berkeliling, gue masuk ke kamar dan menaruh ransel, lalu langsung makan siang di restoran chinese yang bernama The Pavilion Room. Pastinya, dengan menggunakan access card di atas tadi. Nggak perlu repot-repot naik turun, karena kebetulan, restoran ini ada di lantai yang sama dengan kamar gue. Selesai makan siang, gue langsung balik lagi ke kamar buat tidur. Sementara nenek, adik kakek, dan tante gue pergi ke casino yang berada di lantai 7. Gue sendiri nggak ngerti asiknya main di casino. Jangankan casino, main uler tangga aja gue kalah mulu.

Selama tiga hari ke depan, gue bakalan ada di atas air. "Doakan saya ya," ucap gue dari atas kasur, sambil menirukan gaya ala peserta benteng Takeshi. Gue lalu memakai kacamata 3D yang entah gue dapet dari mana. Biar nanti mimpinya ikut 3D. Kemudian, seakan terbawa suasana oleh udara dingin dari AC yang menyala di kamar, gue pun tertidur dengan pulas.

Liburan gue dimulai. Dengan tidur. 

Kotak Surat: Tujuan Nge-blog, Passion, dan Gaya Nulis

Berkat segmen baru di blog gue, sebulan terakhir ini gue banyak nerima email-email yang masuk ke dalam kotak surat. Ada yang nyuruh review, konsultasi blog, curhat, sampai tawaran kerja sama. Iya, kerja sama. Bukan yang satu kerja, yang lain sama. Itu mah slogan anak-anak sekolah zaman sekarang. Kali ini, segmen Kotak Surat edisi kedua bakalan hadir dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang masuk. So, langsung aja, check this out

Kotak Surat
Dari Agung Wijannarko

Nama: M Agung W 

Haloo viiinn... Mau tanya ni, itu lo bikin logo blog pake apaan? Bentuk karakter/wajah lo pake apaan bikinnya? Gue jg pgen tuh... Sorry tanyanya gak mutu,hehhhe

Moga di jawab

Thanks.


Halo, Agung. Untuk logo, ilustrasi (termasuk header), sampai sekarang gue masih pesen lewat ilustrator. Banyak kok ilustrator di luar sana yang buka jasa kayak gini. Kalo gue, pesennya di: @ginataputra. Selain pesan, cara buatnya bisa pake software semacam Photoshop atau CorelDraw. Gue belum terlalu jago, makanya pesen. Haha. 

***

Dari Ingka Chintia

Dear kevin,

Nama ku ingka, kebetulan aku sering baca blog kamu dan blog walking temen2 blog kamu, bagus dan inspiratif. 

oya, yang aku mau tanyain :

1. kira2 kalau ikutan join di jamban blogger itu harus gak sich ikutan share article gitu ? 
2. kalau seumpama untuk orang yang baru belajar buat blog nich, bisa gak ikutan kopdar2 nya di jamban blogger ? 

Sering liat blog2 anggota nya jamban blogger, pengen dech ikutan tambah pengalaman :) bukan hanya sekedar browsing aja tapi beneran bisa ikutan di acaranya :) 

Thanks & Best Regards 

Ingka Chintwang

Halo, Ingka. Makasih udah sering-sering baca blog gue dan blog temen-temen yang lain. \o/

1. Bebas, sih. Kalo kamu pengin artikelnya dibaca lebih banyak orang, share postingan lewat twitter Jamban Blogger atau langsung dari forumnya bisa kok. Tapi nggak diwajibkan juga. Kalo udah gabung, saran gue sering-sering aktif aja. Biar nambah temen sekaligus bahan bacaan. 

2. Wah, bisa banget. Gue dan temen-temen Jamban Blogger (khususnya daerah Jabodetabek) rutin ngadain #KumpulKeblog setiap bulannya. Di acara itu, kita saling mengenal satu sama lain, sharing ilmu tentang blog, dan ngobrol-ngobrol seru. Nggak cuman di Jabodetabek, daerah lain juga udah ngadain #KumpulKeblog, loh. Di Malang dan Jogja contohnya. Informasi terbaru tentang acara ini biasa diumumin lewat forum atau lewat twitter. Yuk, ikutan!

***

Dari Imam Abil Fida

Assalamualaikum, 
Hay, bang *sok akrab*? 

Biar lebih akrab nanya-nanyanya mungkin gue panggil lo Brad aja ya *maksa* bukan apa-apa atau bukan siapa-siapa biar lo ketularan ganteng dikit kayak Brad Pitt (gue gak ngrayu bang! gue masih normal).

Oke, Brad gue mau nanya "Sebenarnya apa tujuan lo bikin blog kevinanggara.com? iseng, kurang kerjaan, pengen terkenal, atau cuma pengen nulis kayak diary gitu" 

udah gitu aja. dibales alhamdulillah gak dibales sialan lo! hehe bercanda Brad. 

Jangan lupa buat mampir buat sekedar baca2 atau komen2 di blog gue yang bermarkas di http://iiaaff.wordpress.com

Oke, brad.

Tujuan gue bikin blog ya buat nulis aja sih. Dan biar tulisannya dibaca orang-orang. Kenapa blog? Karena di blog bebas, gue bisa nulis sepanjang apapun yang gue mau. Nggak dibatasi karakternya kayak di twitter. Tujuan orang nge-blog itu beda-beda. Ada yang nyari duit, pengin terkenal, atau cuma pengin nulis kayak yang lu bilang. Ya, tujuan gue pengin nulis aja. Sisanya itu kan nanti bisa dateng dengan sendirinya. Soalnya, prinsip dasar nge-blog itu berbagi. 

Di blog ini, gue berbagi lewat tulisan biar bisa dibaca orang-orang. Gimana, brad? Hehe. 

***

Dari Angel Dorsiana

Vin, gua mau nanya nih.

Untuk membuat sub menu dengan berbagai pilihan kayak blog lu gitu gimana ya? Gua udah bisa buat sub menu tapi untuk menu pilihannya gua rada bingung dan ngak berhasil. 

Coba, bagi cara ngerubah sub menu yang baik dan benar dong :{)

Gue selalu bingung kalo dikasih pertanyaan gini.

Masalahnya simpel, gue nggak tau struktur blog lu kayak gimana. Bisa aja cara yang gue pake berbeda dengan template yang lagi lu pake. Yang tau tentang blog itu ya pemiliknya sendiri. Gue selalu mengarahkan pertanyaan-pertanyaan kayak gini buat: googling aja. Iya, gue menyarankan googling aja biar lu bisa ngotak-ngatik sesuai yang lu mau. 

Tapi kan, nggak semua jawaban ada di google?

Nah, sebelum gue mengarahkan orang untuk googling, gue selalu memastikan jawaban atau keyword yang dicari itu ada atau minimal udah pernah gue liat. Makanya, gue nggak asal ngomong, "Googling aja" Karena kalo semuanya ditanya, google diciptain buat apa dong? Hehe.

Buat sub-menu yang lu maksud, itu namanya dropdown menu. Selamat mencari! 

***
Dari Kamal Faizal

Salam Kenal,

Sebelumnya kenalin nama gue Kamal. Gue blogger yang baru mulai terjun ke dunia blogging. Setelah baca tulisan-tulisan lo yang agak gila tapi inspiratif, gue jadi pingin minta saran sama senior nih. Kalau boleh gue mau minta review & saran tentang blog gue.

Linknya: http://www.yangseru.net 

- Apa aja yang harus gue perbaikin (dari segala segi, mau segitiga juga bisa)? 

Sama minta tipsnya dong, soalnya gue heran kok gaya penulisan gue kadang-kadang berubah ya? Biar ga kayak gitu gimana? 

Trims sebelumnya,

Kamal

Gue nggak jago nge-review dan ngenilai blog orang. Mungkin, yang lain ada yang berminat. Gue langsung ke pertanyaannya aja ya tentang tips gaya penulisan. 

Lu baru terjun ke dunia blogging dan masalahnya adalah gaya penulisan yang berubah-rubah. Itu wajar. Soalnya, gue juga pernah ngalamin. Coba deh liat arsip postingan gue tahun-tahun ke belakang, dan bandingin sama yang sekarang. Beda banget. 

Gaya penulisan yang berubah-rubah itu dipengaruhi oleh bacaan. Misalnya hari ini lu baca tulisan si A, lu pengin bisa nulis kayak dia. Besoknya lu baca tulisan si B, lu juga pengin nulis kayak dia. Cara mengatasinya adalah, menciptakan gaya penulisan sendiri. Gue yakin setiap orang bisa nulis dan punya gayanya masing-masing. Nah, yang perlu dilakukan itu adalah: mencuri teknik penulisan orang. Bukan meminjam. Kenapa? Karena mencuri itu berarti menjadikannya sebagai milik lu. Kalo meminjam, teknik tersebut masih punya orang lain. 

Misalnya, lu mencuri teknik si A dalam menulis deskripsi, mencuri teknik si B dalam menulis komedi, mencuri teknik si C dalam menulis esai. Lalu, gabungkan sampe itu menjadi gaya penulisan lu sendiri. Kayak masak nasi goreng aja, lu pake bumbu A, pake bumbu B, pake bumbu C, sampe itu menjadi nasi goreng masakan lu sendiri. Mempunyai rasa yang khas. 

Anyway, mau beliin gue nasi goreng nggak? 

***

Dari Meythria

Halo Kevin,
Jadi aku baru aja baca postingan kamu yang "Bangun" itu, aku kagum sama kamu yang sukses di usia muda, masalahnya di umurku yang udah 15 aku masih bingung passion aku itu apa,aku juga belum tau mau kuliah di jurusan apa nantinya.. 

Jadi menurut kamu aku harus gimana dong? 

-tengkyu so mac bifor yah ;) 

Halo, Meythria. Wah, umur kita nggak beda jauh.

Passion, umm... hobi yang menghasilkan? Sesuatu yang kita kerjakan dengan sepenuh hati? Justru di umur segini itu kita harus mengejar passion kita sampai dapet. Jangan bingung, langsung tentuin dari sekarang. Karena kalo udah punya passion, kita jadi punya sesuatu yang bisa diperjuangkan (selain mimpi). Mungkin, lu bisa baca postingan gue yang ini

Eh tunggu, segmen ini kok jadi kayak semacam praktik konsultasi yang bijak banget, ya?!

***
Dari Reza M Fadhli 

Om, eh, Bang, itu template-nya design sendiri atau download?, kalo download minta link-nya/nama template-nya. 

Terus cara hapus judul blog gimana biar bisa dipake untuk gambar headernya ? jawab ya, bang, makasih 

Coba liat footer di blog gue, ya. Nama template-nya Zikazev Simple Gray. Sebagian besar, template ini gue rombak ulang lagi sesuai keinginan gue. Jadi, harap maklum kalo agak beda sama aslinya. Hehe. 

Cara hapus judul blog? Yaudah hapus aja judulnya, masukin gambar. *bukain google*

***

Dari Irvansyah Widniawan

vin, ko lu jago bener sih, bikin pembaca betah di blog lu,contohnya gue, gue betah di blog lu, gimana nih caranya? tips nya deh?, karakter animasi yang selalu jadi header lu juga narik perhatian, cara buatnya gimana nih? hehe vin..

Rahasianya udah gue tulis di postingan ini. Tips dasar bikin pengunjung blog betah: 

1) Jangan nulis dengan huruf alay k4yAk gini. Bikin sakit mata. 2) Jangan pake font dengan warna cerah dan miring-miring kayak menara Pisa. Susah bacanya. 3) Tampilannya yang simpel aja. Nggak usah pake background musik apalagi animasi meteor jatuh. Bahaya kalo jatuhnya di taman. Nanti jadi Meteor Garden. 5) Sebarkan tulisan ini ke sepuluh temen kamu, kalo nggak blog kamu akan sepi. 6) Nomor 4-nya nggak ada. Hilang! 7) Setelah melakukan semuanya, banyak-banyak berdoa. 8) Oiya, jangan nanya balik. Gue lagi di kantor polisi, ketabrak meteor. 

***

Dari Dini Rahman. 

Kev gue mau nanya, kalau mau mulai nge blog tapi masih ragu ragu, misal sekarang mau mulai nge blog, tapi takut nantinya gaada yang baca atau pembaca pada ga suka . Gimana cara ngatasinnya? Padahal gue udah banyak banget nulis buat 'calon' postingan gue nanti. Tolong dibantu ya Vin.. 

Dengan lu menanamkan rasa takut, lu nggak bakal memulainya. Ngapain takut nggak ada yang baca kalo lu sendiri belum coba? Semua tergantung ke tujuan nge-blog lagi. Kalo cuma pengin dibaca, jadi jurnalis dan nulis di koran aja. Kan gampang. Yang baca banyak, dibayar lagi. Gue awal-awal nge-blog, nggak ada yang baca, yaudah... Nggak, gue nggak nangis kok pas nulis kalimat sebelum ini. Seiring lu konsisten juga, nanti pembaca bakal dateng dengan sendirinya. 

Cara ngatasinnya simpel: bikin blog -> nulis -> dibaca. Sebuah tulisan nggak harus disukai pembaca. Selera orang kan beda-beda, nggak harus membuat pembaca suka dengan apa yang lu tulis. Yang penting lu nyaman aja, sih. Gitu kalo gue. Nggak tau ya kalo mas Anang.

***

Mau ikutan nanya-nanya di segmen Kotak Surat? Baca ini